ke(tidak)lugasan yang ditularkan

akhir-akhir ini waktu terasa seperti berlari. enam bulan sudah saya tinggal di negeri kincir angin, negerinya para kumpeni. tentunya enam bulan berlalu bukan tanpa kesan. sejak saya hijrah ke sini, saya jadi sering berpikir tentang banyak hal: tentang diri saya dan cara saya berpikir, tentang lingkungan saya sekarang dan dulu, tentang hal-hal acak yang mungkin ngga’ kepikiran kalau saya tinggal di bandung terus, haha.

sejak beberapa minggu yang lalu, saya bekerja dalam kelompok kecil di studio. ada beberapa hal yang ternyata mengganggu pikiran saya belakangan, di antaranya adalah fakta bahwa ternyata orang belanda rata-rata menganut paham “ngga’ enakan” dan cenderung menghindari konfrontasi. tadinya, saya pikir ini adalah sifat-sifat dasar orang indonesia, atau asia, pada umumnya. tapi kemudian sifat tersebut menjadi semakin kentara ketika saya mulai bekerja bersama rekan-rekan yang orang belanda.

aneh.

saya ingat betul, waktu “introduction program” yang diselenggarakan oleh international office sebelum masa perkuliahan dimulai, ada salah satu narasumber yang menyatakan bahwa pada dasarnya kebudayaan belanda adalah kebudayaan yang “feminin”, cenderung menghindari konfrontasi dan kompetisi. namun, meksipun pada dasarnya masyarakat barat cenderung lebih lugas (straight forward) daripada masyarakat timur, saya merasa orang-orang belanda secara umum – untuk ukuran orang barat – cenderung tidak lugas dan lebih bertele-tele.

entah kenapa, saya merasa sudah terlalu mengenal ketidaklugasan tersebut.
sedikit banyak mengingatkan saya kepada “rumah”.

lalu, setelah beberapa waktu lalu berdiskusi dengan salah satu sahabat, saya jadi berpikir. mungkinkah budaya “ngga’ enakan” dan bertele-tele yang kemudian berkembang di masyarakat indonesia sekarang adalah budaya yang ditularkan selama masa kolonialisasi dulu? saya rasa, 350 tahun bukanlah waktu yang sebentar untuk menanamkan budaya baru di dalam suatu komunitas / masyarakat tertentu. mungkinkah si “ngga’ enakan” ternyata merupakan suatu warisan budaya? mungkinkah ciri budaya bangsa indonesia yang sebenarnya lebih lugas daripada kesepahaman sosial yang ada selama ini, atau yang selama ini kita yakini sebagai kesepahaman sosial yang nyata?

tapi coba bayangkan.
seandainya budaya asli indonesia adalah “ngga’ enakan”, saya rasa revolusi-revolusi yang terjadi di seantero nusantara dulu adalah hal yang tidak logis karena pada dasarnya “ngga’ enakan” selalu berakhir dengan kondisi “status quo”.

mungkin jika “ngga’ enakan” adalah budaya asli indonesia, tidak akan pernah ada Perang Bubat.
mungkin tidak akan pernah ada Perang Diponegoro.
mungkin kita tidak akan pernah merdeka.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s