the day i was assaulted

black

sekali ini saya sama sekali ga main-main.
saya baru saja menjadi korban penyerangan di dekat rumah saya, waktu saya jalan pulang.
sepertinya ketika saya menulis ini pun saya masih dalam keadaan shocked.

baru saja tadi pagi saya menikmati suasana kota bandung yang saya kenal sejak kecil di cihapit.
ketika hari berganti petang, ternyata suasana itu pun berganti kelam.

sore menjelang malam tadi saya pulang sendiri, naik angkot, seperti biasa. sekitar jam 7 saya turun angkot di jalan kalijati raya, lalu jalan kaki ke rumah yang jaraknya ga sampe’ 5 menit jalan kaki. saya belok ke jalan kalijati 2, juga seperti biasa. jalan ini memang relatif sepi dan agak gelap. pos satpam berada di pintu masuk blok yang lain, jadi public control-nya juga kurang bagus.

belokan ke rumah saya itu kaya’nya cuma sekitar 30 meter dari ujung jalan kalijati 2. 15 meter sebelumnya, ada sebuah belokan juga, paralel jalan tempat rumah saya.

waktu saya berjalan semakin dekat ke belokan pertama itu, ada sebuah motor yg berjalan pelan di pertigaan. seperti yang lagi cari alamat. atau kira-kira seperti motor yang baru dinyalain dan baru jalan lagi, lah.

entah kenapa, saya menganggap motor ini sebagai ancaman.

saya sempat terdiam sebentar. tapi lalu terakhir saya lihat, dia seperti mau belok ke kiri, menjauhi arah saya. saya membetulkan posisi tas kecil yang saya selempangkan di bahu kanan. melepaskan pandangan saya dari si motor karena saya merasa motor ini tidak lagi menjadi ancaman.

hal berikutnya yang saya sadari adalah saya mendengar suara motor yang tiba-tiba mendekat.
saya mengangkat kepala saya, tapi saya hanya bisa melihat si motor berkelebat dekat sekali di depan saya. bersamaan, tangan si pengendara motor memegang dan mendorong dada kanan saya.

saya, terkejut setengah mati, hanya sempat meneriakkan serentetan kata-kata umpatan. dengan suara yang nyaris tidak bisa saya kenali.
“HEY!! APAAN NIH!! TAI..!! ANJING LU!!!”

maaf, saya terlalu marah untuk tidak menuliskannya di sini.
saya tidak bisa mencerna, apakah umpatan itu benar-benar keluar dari mulut saya.
karena saya tidak bisa mengenali suara saya sendiri tadi.

ketika saya berbalik, si motor sudah kabur ke ujung jalan.

saya terpaku. masih sangat terkejut. masih berusaha mencerna apa yang baru saja terjadi.

saya bisa saja memungut batu di pinggir jalan dan melemparkannya ke arah si pengendara motor. saya yakin bisa mengenainya tepat di kepala.

tapi saya hanya bisa berdiri mematung.

yang saya tau, saat itu saya hanya ingin dia mati.
saya minta Tuhan untuk menghadiahi pria itu kecelakaan yang menyebabkan kepalanya terlepas dari badannya. mati.

saya masih juga tidak bisa memproses.
apakah saya baru saja dilecehkan secara seksual?
apakah saya nyaris jadi korban penjambretan?
apakah saya mengenal si pengendara motor?
apa yang membuat dia melihat saya sebagai sasaran?

saya melanjutkan berjalan pulang. setengah gemetar.
gemetar karena saya tidak bisa memproses apa yang baru saja terjadi.
gemetar karena terlalu banyak emosi dalam diri saya.

gemetar karena saya tidak tahu harus merasa apa.
jijik. marah. malu. heran. ngeri. kaget.

setiba di rumah barusan saya baru bisa menangis.
tapi saya masih tidak bisa cerita kepada siapa-siapa.
pun kepada ibu saya.

kenapa?
menurut saya, saya tidak bisa mendapatkan solusi untuk masalah ini dengan bercerita kepada ibu saya.
saya hanya akan menambah kekhawatirannya.
saya hanya akan menjadi terlalu lelah untuk menanggapi kekhawatirannya.

kenapa?
karena saya tidak bisa mengidentifikasi penyerang saya.
saya hanya melihat motor berwarna abu-abu.
saya tidak bisa mengenali plat nomornya.
pengendaranya berjaket hitam.
dia mengenakan helm berwarna abu-abu atau hitam.
dia membawa tas ransel warna hitam.
dari caranya menyerang saya, penyerang saya adalah seorang pria.

pria brengsek terkutuk, kalau boleh saya tambahkan.

coba, berapa juta orang di bandung yang cocok dengan deskripsi tersebut?!

lantas, untuk apa saya tulis juga di sini?
saya ingin mengingatkan teman-teman saya untuk tidak pernah lengah.

ini saya yang berbicara, saya yang baru mengalami sendiri diserang seperti itu.
saya, yang terbiasa pulang malam sendirian.
saya rasa ini bisa terjadi kepada siapa saja, kapan saja.
saya tinggal di rumah ini sejak tahun 2005.
sudah nyaris 9 tahun saya melewati jalan yang sama setiap hari, setiap malam.

oh, saya punya sedikit catatan.
kalau paradigma anda, yang membaca catatan saya ini adalah
“seorang wanita tidak akan diserang secara seksual kalau dia tidak mengenakan pakaian yang tidak pantas atau perhiasan yang berlebihan”

sore tadi saya mengenakan t-shirt berwarna ochre dan kalung batu murahan.
dengan celana jeans potongan straight, yang bukan skinny jeans.
dan cardigan hitam berbahan kaos yang bagian badannya berpotongan loose.

saya bukan tipe wanita cantik mengundang perhatian semua pria ketika saya melintas.
pun badan saya jauh dari tipe body model.

silakan anda ikut menduga-duga sendiri saja, kenapa si penyerang memilih saya.
kemungkinan paling besar, bisa jadi saya memang sedang apes aja.

i was unwary. i let my guard down.
lengah. tidak waspada. berhenti curiga.

namun, terlepas dari segala perasaan yang campur aduk dan belum bisa saya uraikan,
saya sangat bersyukur saya “tidak apa-apa”.

semoga cerita saya bisa membuat teman-teman lebih waspada.
baik ketika berjalan sendirian, maupun tidak.
baik ketika malam, maupun tidak.

tidak ada seorang pun yang benar-benar aman.
ini bisa terjadi pada siapa saja.


Bandung, 26 Desember 2013
19.30 WIB

3 thoughts on “the day i was assaulted

  1. Gw juga pernah, 2 x . Pertama taun 2001 di deket rumah, jl jalaprang pulang malem habis rapat2 OSKM di kampus, mungkin dekat tengah malam. Sekali lagi bbrp tahun lalu di jln merak, deket sekre jmd, paling jam 7an. Emang gitu sih, sama reaksi gw juga neriakin aja pengen ngejar tapi ga bisa… apalagi keki banget, krena itu di lokasi2 yang sangat kita kenal tiap hari. lewat situ. Dan pakaian sama sekali jauh dari mengundang. Yang kedua kali itu boncengan anak SMA berandal sih kayaknya, emang udah keliatan ngebut2 sambil oleng, eh tau2 mendekat.., Yang pertama dulu pake helm full face kayaknya udah nungguin di belokan jalan kecil yang agak sepi, padahal sebelumnya jl jalaprang tu masih rame banyak tukang jualan dan yang belanja

  2. aaaaaaaahh… peluk malaaaaaaaaaaa….
    hih. benci deh gw. udah gila kali ya orang2 itu… >.<

    dan buat org2 yg mikir bahwa cw yg di-assault itu pasti yg pake rok mini & baju seksi doang.. think again, man!!

    it can happen to you, your (best)friend, your sister, your wife, your mother.

    stay safe. stay alert.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s