bantu-mem-bantuin

eits! ga boleh protes.. hehe..
iya, saya tau, itu judulnya bikin malu J.S. Badudu.. tapi gapapa yah, sekali iniiiiiii aja..😀

tadi siang / sore saya main sama mbak diah, temen saya. kami baru saja memperlakukan warung cuanki serayu seperti kafe dgn duduk & bercerita berjam-jam di situ. nah, salah satu bahasan yang menurut saya cukup menarik dan agak menggelitik ini adalah tentang peristiwa bantu-mem-bantuin ini..

mbak diah dan saya sama-sama bantuin di salah satu (what-so-called) komunitas di bandung.. dia jadi bendahara, saya lagi bantuin sekalian curi ilmu di divisi penelitiannya.. hehe..

out of context, tadi kami ngobrol dan sepakat bahwa regardless what you say, all that matter is what you do.. terutama soal bantu-mem-bantuin ini..

selain itu, kami juga sepakat bahwa cara orang ngebantuin itu ada banyak.. dan belum tentu cara yang kita pilih akan “terlihat” sama orang lain.. sehingga bisa aja menurut orang lain mah kita ga membantu, padahal itu mah cuma karena dia ga liat proses kita ngebantuin doang…

well, tapi kalau soal ini, saya rasa semua agama pun mengajarkan begitu ya? untuk tidak riya’, untuk tidak pamer, untuk selalu melakukan yang terbaik yang bisa kita lakukan saja…

bagi saya pribadi, bantuan tidak harus selalu datang sebagai “a hand to hold, a shoulder to cry on”. it’s much more than that.

seringkali, diamnya seseorang pun sudah menjadi bantuan yang sangat besar untuk orang lain. di kala yang lain, tawaran untuk terjun tandem berani mati dalam ngerjain sesuatu pun merupakan bentuk bantuan. atau bisa jadi keputusan kita untuk diam dan mendengarkan si lawan bicara nyerocos tiada henti tak kenal lelah tentang ide-idenya pun merupakan bentuk bantuan yang lain.

saya bukan cenayang.
saya tidak pernah selalu tau bentuk bantuan seperti apa yang dibutuhkan teman saya, pun bentuk bantuan seperti apa yang diharapkan teman-teman saya.
jadi saya selalu berusaha bertanya dan tidak membuat asumsi.
because making assumption, as curiosity does to cats, kills.

asumsi di sini juga maksudnya luas, yaa…
bisa saja asumsi saya adalah bahwa si teman saya ini tidak butuh bantuan. paling tidak, bukan bantuan dari saya yang dia butuhkan.
atau asumsi saya adalah bahwa si teman saya ini kasian banget, ga ada yang bantuin, padahal dia udah mati-matian cari bantuan.
atau malah misalnya asumsi bahwa si teman ini butuh banget bantuan saya karena cuma saya yang bisa bantuin dia dan ga ada orang lain yang mau bantuin.

man. come on!
we are not the goddamn psychic.

as i said to myself times and times again:
stop making assumptions!! stop making pretension!!
each and every data must be verified not by you only!!

nah. sekarang,
since we’re fighting our very own battles that nobody needs to know,
and we’re facing our very own devil that nobody else can see,
saya rasa cukup bijak kalau tadi kami akhirnya berkesimpulan bahwa cara saya (as i speak for myself) membantu orang lain is nobody else’s business but me. dan bahwa kemampuan orang untuk membantu itu tidak sama, harus menjadi sesuatu yang lumrah.

semua orang membantu dengan caranya sendiri-sendiri, meskipun seringkali orang yang dibantu (atau bahkan orang lain yang melihat dari luar sistem bantu-mem-bantuinnya) tidak menganggap itu sebagai bantuan.

tapi mungkin dia begitu bukan karena dia tidak mau membantu.
dia hanya tau cara itu untuk membantu.
dia tidak tau cara yang lain.

and it’s ok.
until it’s proven the otherwise.😉

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s