de.liv.er.y

de.liv.er.y
(plural de.liv.er.ies)
noun
manner of speaking: the action or manner in which somebody speaks to an audience

tulisan ini terinspirasi oleh seorang teman yang beberapa waktu lalu posting di sebuah mailing list. dia berusaha menyampaikan koreksi terhadap topik tertentu. saya, yang pernah berinteraksi langsung dengan cukup intens dengan ybs, merasa dia menyampaikan koreksi tersebut dengan maksud baik. tapi memang, bahasa yang dia gunakan agak kurang mengandung adat ketimuran, atau kita sebut saja basa-basinya agak kurang pas lah ya… “untungnya” dia tidak serta-merta menjadi thread killer, walaupun tidak ada yang merespon koreksinya.

pada suatu kali yang lain, seorang teman yang lain mengicaukan pendapatnya di media sosial dengan nada dan bahasa yang cukup… mmm… sinis dan cukup ofensif (offensive bahasa Indonesianya apa ya?). pendapatnya ini, yang (meminjam istilah di sosial media tersebut) bersifat “no mention“, kemudian menyebabkan pihak lainnya merasa tersinggung. padahal, menurut saya yang disampaikannya pun tidak sepenuhnya salah. debatable lah. untungnya (lagi), masalah ini tidak menjadi sesuatu yang berlarut-larut dan sudah selesai.

rasanya cerita-cerita semacam ini sudah semakin menjadi kisah sehari-hari, ya? kegagalan komunikasi akibat keterbatasan interpretasi atas informasi yang bersifat tertulis.

tidak mudah ya rupanya, berkomunikasi secara tertulis. karena kita nyaris tidak bisa menyampaikan informasi tertulis bersama gestur, ekspresi wajah, dan intonasi. penggunaan emoticon sebetulnya cukup membantu, sih. tapi ‘kan tidak semua tulisan bisa kita bubuhi emoticon ya?! hehe.

kita (atau minimal saya) sering terjebak dalam gaya bahasa menulis yang menyerupai gaya bahasa lisan. sedangkan gaya bahasa lisan pada dasarnya bisa diinterpretasikan secara berbeda tergantung intonasi yang kita gunakan ketika bicara. sedangkan sebuah tulisan, menurut saya, sejatinya tidak memiliki intonasi yang jelas kecuali dibubuhi tanda baca yang tepat sehingga seringkali bermakna bias ketika kita menyampaikan sesuatu lewat tulisan (terutama kritik, saran, dan pendapat).

lalu apa yang kira-kira akan terjadi ketika kita memilih gaya bahasa yang kurang tepat, terutama ketika memberi opini? menurut saya sih pilihannya ada banyak. bisa jadi kita dianggap menggurui, sok pintar, ngajak berantem, sinis, apatis, tukang komentar, dan lain-lain. silakan tambahkan sendiri deh daftarnya. terlebih karena kita (rata-rata) hidup dan dibesarkan di lingkungan yang adatnya sangat “timur”; yang penerimaannya kerap bergantung pada “bagaimana” sesuatu disampaikan, bukan “apa” isi sesuatu yang disampaikan.

jadi, sepertinya kita semua harus sama-sama belajar menyampaikan ide kita dengan baik ya? karena ide yang baik, maksud yang baik, dan kritik yang baik ternyata lebih sulit dicerna orang ketika tidak disampaikan dengan baik. meskipun kita juga harus menerima fakta bahwa ide yang disampaikan dengan baik pun belum tentu bisa dimengerti 100%.

selalu ada informasi yang hilang di udara, bersama suara yang memudar setelah kita bicara. karena penyampaian informasi itu seperti mesin bakar, tidak pernah ada yang tingkat efisiensinya mencapai 100%.

tapi boleh ‘lah, kita angkat topi untuk teman-teman yang sudah bisa menyampaikan ide tertulisnya dengan baik..😉

“emangnya lo yakin, mbak, orang bisa nangkep 100% sama persis sama yang lo maksud ketika lo ngomong sama orang? ‘kan kalo’ kita diskusi gini aja, berdua, mana gw tau apakah definisi “ngerti” lo sama sama definisi “ngerti”-nya gw…” -adik saya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s