iqra’

katanya, itu adalah perintah pertama Allah SWT ke Rasulullah SAW lewat malaikat Jibril.
Rasulullah disuruh membaca. Membaca dengan menyebut nama Tuhannya Yang Khalik.

 

Saya kemaren lagi tiba-tiba kepikiran aja soal iqra’-mengiqra’ ini.

Saya mah bukan ahli agama, bukan ahli tafsir, apalagi ahli hafidz. Jadi saya mah ga’ mau ngomongin ayatnya dari segi tafsir. Ini mah hanya sedikit pemahaman dan pemikiran saya aja soal si iqra’ ini.

 

Beberapa hari yang lalu saya katumbleuhan kerjaan (lagi) di kantor karena bos-bos merasa kurang puas sama output salah satu kerjaan yang lagi dirempug banyak orang di kantor. Bos-bos cuma minta saya bantuin bikin presentasinya aja sih.. by presentasi means file ppt & sajian info-grafis peta.. tapi saya dari awal beneran ga terlibat kerjaan ini sama sekali sedangkan bahannya banyak banget..

 

Saya merasa butuh catch-up dengan cepat, tapi juga merasa perlu baca si bahan yang banyak itu…

Waktu saya bilang saya pengen baca dulu ke si masbos, dia bilang,
“there’s no time to read, put…” sambil nyengir.

 

Terus saya mikir.
Ga’ mungkin ga’ ada waktu untuk membaca.

 

Tuhan ga akan nyuruh Rasulullah membaca kalo’ memang ternyata di masa depan ga ada yang bisa dibaca; atau umatnya ga punya waktu untuk baca. Dan lagi, menurut saya, membaca itu artinya luas. Tidak terbatas pada sekadar kegiatan mengeja rangkaian huruf yang memiliki arti tertentu sehingga kita jadi tau atau mengerti.

 

Menurut saya, konsep membaca adalah observasi dan data collecting sebagai upaya memperluas sudut pandang. It’s all about perspective, point of view, and state of mind.

 

Ketika kita membaca buku, kita mengobservasi isi buku itu, kan? Observasi itu dilakukan dalam rangka mengumpulkan data supaya kita bisa paham isi bukunya, kan? Ketika kita bisa memahami isi buku tersebut, wawasan kita bertambah dan sudut pandang kita meluas, kan?

 

Gimana supaya kita bisa mengerti isi buku itu?
Menurut saya, ketika kita membaca sebuah buku, kita ada dalam kondisi siap menerima isi buku tersebut. Kita siap membuka pikiran kita untuk apa pun yang ada dalam buku itu.

 

Iya ga’ sih?

 

Jadi, kenapa kita jarang sekali memperlakukan kehidupan seperti kita memperlakukan buku-buku itu ya?
Yang dibaca untuk dipahami. Yang dibaca dengan penuh imajinasi. Yang dibaca dengan pikiran terbuka.

 

Padahal menurut saya semua hal yang terjadi pada kita, yang terjadi di sekitar kita itu semuanya menunggu untuk dibaca dan dimaknai.

 

Iya ga’ sih?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s