Epic Java: To Bring The Epic Dream Alive

Semalem abis nonton premiere-nya Epic Java di PVJ. Bareng bung Japra, bos Wildan, sama dik DeeN. Film ini akhirnya tayang, setelah sekitar satu tahun saya diceritain rencana bikinnya sama Galih.

the golden ticket

the golden ticket

Epic Java apaan sih?
Epic Java ini film pendek non-naratif gitu, isinya rekaman ke-epic-annya Javadvipa – si pulau padi – dalam bentuk video, time-lapse video, dan mungkin ada yang lain lagi yang saya ga tau istilahnya apa. Hehehe. Singkatnya sih kaya’ nonton iklan rokok menjelang 17 Agustusan, tapi 30 menit…

the Epic Java

the Epic Java

Ini sih judulnya review cemen-cemenan gitu yaaa.. secara, saya mah ga punya expertise ngomentarin film, gitu yah.. jadi ini mah cuma sedikit curhatan yang masih terkagum-kagum abis nonton ini film yaa…

Kesan pertama saya adalah, itu time lapse-nya banyak, sodara-sodara… sedangkan untuk bikin time lapse 10 detik aja syutingnya bisa sampe 3 – 6 jam. Ya kebayang ya, makanya filmnya jadinya setaun, haha…😀 uyuhan, sumpah.. niat pisan bikinnya… kata yang buatnya (semalem kan ada acara bincang2nya juga gitu, deeeh..) film ini berasal dari hobi mereka masing-masing.. kebayang kan, kenapa film ini bisa segitu niatnya bikinnya…

Filmnya jadinya keren, bok!! Bentuknya non-naratif, jadi sepanjang film isinya cuma gambar sama lagu doang..(sayangnya tadi volume suaranya kenceng banget, jadi menurut saya yg kupingnya agak rese ini filmnya jadi kurang bisa dinikmati karena saya sibuk menutup kuping sepanjang film.. yet I still heard the music perfectly…)

Sayangnya juga tadi mbak MC-nya juga aga gengges sih.. pertanyaan2nya itu, lho.. kaya’ ga dikonsep dulu dan bikin saya & teman2 saya tepok jidat…
Contoh: kepada Mas Music Director, alih-alih bertanya tentang hal-hal yang esensial – seperti misalnya dapat inspirasi bikin musiknya dari mana, atau susah ga sih bikin musik untuk suatu tayangan yang isinya ga bisa kita atur sendiri (karena tergantung keadaan alamnya jadi footage videonya kan “seadanya” yang berhasil di-shoot), atau kenapa ga ngerekam suara gamelan / alat musik tradisional untuk back-sound, dsb – si mbak MC malah nanyain software apa yang dipake’ untuk mengolah musiknya.. DUUUUUUDDDEEEEEEEE!!!! It’s an epic fail, dude!!! PLEASE!!! >.<

Oiya, ngomong-ngomong soal musiknya, saya juga jadi kepikiran.. Kenapa waktu itu ga nawarin mereka ngerekam KPA3 ya?! Main Rayuan Pulau Kelapa, atau Tanah Air, atau Indonesia Tanah Pusaka, misalnya… oh!! atau yang lebih keren lagi mungkin Indonesia Jiwaku, ya?! dinyanyiin sama Aning Katamsi… beuhh… merinding diskoooo pastinJaaa….

Dari kecil saya tertarik sama film-film semacam time lapse gini.. Saya suka liatnya.. Kan kaya’ keren gitu ya.. kameranya diem, lingkungan sekitarnya yang bergerak, dan bisa terekam dengan baik… saya suka banget ini… Tapi ternyata belakangan saya baru tau bahwa bikinnya susah-susah gampang, hehehe… Dan ternyata saya kurang sabar untuk mencoba membuat satu aja, yang pendek.. Mungkin sekali-sekali nanti bisa dicoba, bikin time lapse cemen gitu… Nanti, kalo’ ada waktu luang dan determinasi yang cukup, hahaha😀

Etapi yah, menurut saya film yang menampilkan keindahan alam dan kekayaan budaya Indonesia secara ekstensif itu agak-agak serba salah dan jadi pisau bermata dua, yaa… Di satu sisi, film semacam ini bener-bener bikin terharu, bersyukur, dan takjub sama kekayaan Indonesia. Di sisi lain, film macam ini seringkali menghadirkan informasi tentang tempat-tempat baru yang belum banyak diketahui khalayak ramai.

Bisa bagus untuk promosi pariwisata, sih… Tapi dengan budaya wisatawan domestik kita yang rata-rata bukan responsible-travelers itu kok kaya’ mengundang rubah ke kandang ayam, ya?

Walaupun saya bukan frequent traveler yang sering traveling jalan2 ngusruk & mengeksplorasi ke antah berantah, saya cenderung selektif ngasih info soal tempat-tempat baru yang keren2 yang pernah saya datangi. Karena seringkali ketika si tempat baru yang keren itu sudah diketahui banyak orang dan jadi ramai, dia kehilangan pesonanya..

Mungkin saya memang lebih cocok dengan destinasi wisata yang kategorinya “wisata minat khusus” ya.. meskipun saya juga termasuk satu di antara banyak orang yang mulai menandai peta dgn tempat-tempat baru yang baru saya liat di Epic Java barusan, tapi kok kaya’nya saya ga’ rido kalo’ tempat-tempat ini, terutama yang keindahannya memang belum banyak diketahui orang, jadi didatangi segitu banyak wisatawan dan jadi sebuah tempat yang terlalu… … mmm, apa ya? komersial? publik? profan?

Sebagai contoh… mmm, apa ya?!
Konon katanya Semeru sekarang ramai sekali. Mungkin setelah film “5 cm” yang cukup ngehits belakangan ini, orang jadi kaidean untuk menjajal Semeru. Meskipun salah satu teman saya yang sering naik gunung menganggap film ini sebagai pembodohan massal, yaa.. Ga mungkin lah naik Mahameru tanpa persiapan apa2 sebelumnya.. Itu cari mati, katanya.
Contoh lain mungkin, Raja Ampat yang katanya juga sekarang sudah cukup ramai dikunjungi orang meskipun jauh dan biaya ke sananya juga mahilll…

Kebetulan saya belum pernah ke Semeru atau Raja Ampat, sih.. Jadi saya ga bisa ngasih data yang cukup valid apakah hipotesis saya benar adanya… hehe.. jadi ini mah masih bersifat speakology saya saja…

Anyway, terlepas dari kekhawatiran saya bahwa film semacam ini bisa jadi boomerang dan mengakibatkan tempat-tempat yang difilmkan kehilangan epicness-nya, Epic Java patut diacungi jempol dan patut mendapatkan standing ovation.

Berangkat dari hobi dan iseng-iseng, jadi sesuatu yang ternyata sangat dirindukan oleh banyak orang: sebuah tontonan berkualitas.

Jempol & salut untuk teman-teman tim Epic Java.
Semoga keisengan dan hobinya ga berhenti sampai di sini saja.
Semoga kesibukan roadshow dan ketenarannya ga membuat jadi lupa bermimpi dan tetap membumi.🙂

catatan kaki

ini sedikit link untuk yang penasaran trailer2nya Epic Java…
hatur lumayan, buat yang ga nonton tadi.. berdoa aja mereka roadshownya ke banyak tempat…

http://www.youtube.com/watch?v=Q5dXZniB-xQ
http://www.youtube.com/watch?v=y7aqhanytxM
http://www.youtube.com/watch?v=ybwOOSt8Ur0

ini link ke youtube-nya Indonesia Jiwaku, dinyanyikan oleh Aning Katamsi..
siapa tau ada yang pengen dengerin…

http://www.youtube.com/watch?v=pC1Ffr0PMxA

One thought on “Epic Java: To Bring The Epic Dream Alive

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s