kalah

“Mungkin manusia itu fitrahnya memang mau menang terus, ga mau kalah; jadi seringkali kita, sebagai manusia, merasa kalah ketika orang lain lebih maju daripada kita.” –poets.2012

Draft tulisan ini sudah lama sekali bersemayam di dalam kepala saya. Sampai-sampai saya harus membongkar-bongkar memori agak banyak untuk menemukan apa yang mau saya tulis waktu itu, hehe. Tulisan ini sebetulnya terinspirasi celetukan teman-teman saya, kolega saya, bahkan mungkin saya sendiri. Kali ini, pemicunya adalah seorang kolega yang baru pulang dari tugas negara di Surabaya.

Surabaya ini, menurut saya pribadi, adalah kota yang cukup menarik. Meskipun panasnya luar biasa, kota tuanya benar-benar jadi obyek wisata yang seru untuk dijelajahi sendirian. Selain itu, Surabaya kebetulan memiliki walikota yang… … …mmm, mari kita sebut saja peduli sama permasalahan kotanya. Anyway, ibu walikota Surabaya ini punya beberapa program yang menarik, salah satunya adalah untuk menghidupkan kembali ruang-ruang publik di kota Surabaya yang berupa taman dan ruang terbuka publik dengan cara menyuntikkan fasilitas WiFi di taman-taman tersebut. Selain itu, konon katanya dalam beberapa tahun ke depan, kota ini juga menargetkan membenahi sarana transportasinya dengan menambahkan moda transportasi baru berupa monorel dan trem untuk mengurai kemacetan.

Pada suatu hari yang sudah gelap, kolega saya ini mempresentasikan kegiatan tugas negaranya ke Surabaya itu dalam suatu forum. Kemudian dia bercerita, bla, bla, bla, bla, bla; sampai…

“…. rencananya dalam waktu dekat Surabaya juga mau bikin monorel.. wah, Bandung kapan ya? Bandung ketinggalan nih ….”

Waktu itu saya hanya bisa menelengkan kepala; saya merasa simpulan dia bahwa Bandung ketinggalan dari Surabaya tidak tepat, tapi saya belum tahu bagaimana cara menyampaikan keberatan saya.

Lalu saya dengarkan lagi dia bercerita tentang suatu pusat jajanan / kuliner di (kalau saya tidak salah ingat) Sidoarjo, Jawa Timur.

“…. wah, bapak-bapak, ibu-ibu.. Bandung kalah lagi, nih… masa’ Sidoarjo aja udah punya pusat kuliner, di Bandung ngga’ ada …”

Kali ini saya semakin miring menelengkan kepala saya. Pernyataannya tidak berterima untuk saya.

Kenapa harus merasa kalah?

Begitu pikir saya sampai hari ini. Menurut saya, pembangunan itu bukan soal kalah-menang dari daerah / kota lain. Pembangunan itu soal apa yang kita butuhkan; bukan semata-mata apa yang kita mau.

Untuk kasus sarana transportasi publik di Bandung dan Surabaya, contohnya.
Permasalahan yang muncul di permukaan mungkin sama: kemacetan.
Tapi belum tentu penyebab terjadinya kemacetan di Bandung dan penyebab terjadinya kemacetan di Surabaya sama. Tentu saja, solusi penanganan kemacetannya pun mungkin akan jauh berbeda.

Surabaya boleh punya monorel dan kita, sebagai warga Bandung, tidak perlu merasa kalah karena tidak punya monorel. Kenapa harus merasa kalah / tertinggal ketika memang kita ternyata tidak butuh monorel untuk menyelesaikan masalah kemacetan di Bandung?

Tidakkah menjadi sesuatu yang konyol, ketika kita mencoba menyelesaikan permasalahan dengan solusi yang tidak tepat dan menyeluruh?
Itu kan seperti orang sakit perut yang minum obat sakit kepala supaya sembuh.

Tapi mungkin ini adalah salah satu cerminan karakter sosial masyarakat Indonesia pada umumnya. Dan sangat mungkin saya juga termasuk di dalamnya. Menurut saya, kita cenderung malas menggali akar permasalahan suatu hal. Oleh sebab itu, kita sering keluar dengan solusi-solusi rumit yang ternyata dangkal dan tidak menyelesaikan permasalahan. Sebagai contoh, untuk mencegah genangan air hujan di jalan, permukaan jalan ditinggikan 5 – 10 cm dari ketinggian aslinya… … …tanpa membenahi drainase jalannya.

Saya sih cenderung berangkat dari kebutuhan, sebelum ngomongin gengsi dan gaya.

Yaaaah, istilahnya mendingan saya pake’ hp butut yang cuma bisa nelepon & sms aja, tanpa bisa bbm-an atau watsapp-an, tapi dengan pulsa yang unlimited daripada pake’ hp merk buah2an tapi ga berpulsa.

Kenapa harus merasa kalah ketika yang tidak kita miliki memang tidak kita butuhkan? –poets.2012

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s