benci-benci-rindu

jumat malem lalu saya dan beberapa temen saya nonton P’Apep cerita soal PKL.. lalu ada diskusi-diskusi menarik.. menarik karena beberapa waktu yang lalu saya pernah nulis sedikit soal PKL yang kerap termarjinalkan, padahal dia udah termasuk kaum marjinal. jarang-jarang nih, saya lagi waras dan nulis kaya’ beginian.. jadi mumpung masih hot, coba kita tumpahkan sedikit ya…

jadi, katanya yang disebut PKL itu harusnya cuma pedagang yang temporer. TEMPORER. catet! temporer itu artinya tidak tetap. jadi dia bisa pindah tempat. jadi dia cuma mangkal aja di suatu tempat; setelah dagangannya abis, dia dan gerobak-gerobaknya nyingkah dari tempat ngetemnya.

katanya sih ada beberapa perda tentang PKL; terutama yang urusannya sama K3 (keamanan, kebersihan, ketertiban). katanya, PKL itu kumuh. jorok. geuleuh. merusak pemandangan. semrawut. dan harus dibasmi. setidaknya dirapikan.

tapi ternyata untuk ngeberesin PKL di ruang kota juga ga segampang itu. direlokasi, terus 3 hari kemudian dia balik lagi mangkal di tempat biasa. digusur, buka lapak baru di blok sebelah.

bahwa PKL itu kerap membuat kesan kumuh, saya setuju. pun saya setuju bahwa kadang dia mengganggu. contoh nyata yang kerap terjadi adalah si pedagang-pedagang ini seringnya mengambil jatah orang jalan.

tapi bahwa PKL harus dihilangkan dari ruang kota, itu lain perkara.

well, kita juga tidak bisa menafikkan fakta bahwa masalah PKL ini memang pelik. sudut pandang dan entry point identifikasi masalahnya bisa sangat beragam. apalagi alternatif solusinya. tapi menurut saya, pada dasarnya kan si PKL ini sifatnya menjemput bola, ya.. jadi dia mendatangi keramaian, tempat yang potensial untuk berjualan.. jadi mungkin keberadaan PKL di tempat-tempat ramai adalah suatu keniscayaan.

kalo kata DN tadi, bisa jadi si PKL ini adalah akibat, bukan penyebab.

ada istilah menarik yang diperkenalkan p’apep dan p’indra semalam: konvivial, dan bantalan hidup.

konvivial ini artinya friendly, lively, and enjoyable.
kalo’ bantalan hidup yang dimaksud p’indra itu mungkin lebih seperti buffer / bumper yaa.. jadi, PKL itu bisa jadi adalah bantalan hidup buat seseorang. misalnya dia abis di-PHK, terus dia ga tau mau kerja apa, terus sementara itu kan dia (dan keluarganya) tetep butuh makan, jadilah dia jualan untuk menyambung hidup…

tapi terus juga mungkin kita sering lupa, bahwa PKL ini juga menyambung hidup kita. coba, siapa yang sama sekali ga pernah beli apa-apa dari PKL, street vendors, hawkers, atau apa pun lah itu namanya?? ada ga sih, yang beneran ga pernah beli apa-apa dari PKL? saya rasa kok ga ada, ya… bahkan mungkin bapak-bapak satpol pp yang suka nge-gebah-in PKL-PKL itu beli rokoknya juga di PKL yang lain…

kadang-kadang, menurut saya, hubungan kita sama PKL itu agak benci-benci tapi rindu gitu kali ya..
pas ada dicaci-maki, kalo’ ga ada dicariin… rokok, air mineral, permen, gorengan, cilok, baso, nasi goreng, sepatu murah, kalung dan asesoris lain, kaos, kemeja, tas, gemblong, DVD bajakan, furnitur, tukang sepatu, tukang patri, majalah, buku, dan masih sangat banyak lagi lainnya.

sepertinya kadang kita ga sadar bahwa PKL juga sudah menjadi bagian hidup kita. sehingga kita jadi sering ga sadar, bahwa PKL itu juga harusnya punya tempat di kawasan perkotaan. cem anak-anak muda gaul yang butuh tempat untuk memamerkan eksistensi dirinya gitu dweeehh. biar gahol getoh.

sehingga kita mungkin juga sering ga sadar, ketika kita mendesain sebuah ruang (kota), kita mendesain untuk manusianya. manusia. tanpa kecuali. termasuk para PKL itu.

“mungkin memang kita harus memperhitungkan PKL waktu mendesain trotoar.. ya kalo’ tadinya lebarnya cuma 1,5 m, sekarang bikinlah trotoar yg lebarnya 6 m, bahkan 8 m, untuk menampung si PKL itu…” [achmad d. tardiyana – 2012]

3 thoughts on “benci-benci-rindu

  1. aku sukaaa baca tulisanmu yang ini puuts, emang PKL itu keberadaannya lebih dekat dari urat nadi kitah dengan pergerakan selicin belut, gusur sini, pecenghul sepuluh meter kemudian, *naoon.
    tapi kebayang lah, disini kan gaada pkl, kalo misal cuma pengen beli permen ato aer mineral doang meuni hese ngesotna, kudu nyari mart terdekat, ga bisa ngegorowok dari kaca bis ‘A, Aqua hiji, enggalan!Angsulan opat rebu!’
    Ah, kangen.

    1. asuuuyy… taratengkyuu, aku jadi mahluuuu… :”)
      aheuheuheu.. di sana street vendor-nya ga se-merajai-jalanan di sini ya, ceu?😀 hihihi.. btw!! aku kmrn ini liat ada tukang jualan roti ciwawa di pinggir jalan, di antapani!!!! no more searching, boookk!!!😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s