air, udara, dan kebutuhan hakiki manusia

beuh.. dipikir2, berat juga ya itu judul postingan saya?!! haha.

ceritanya hari ini di kantor saya ga ada air (ledeng). bukan karena mati dari sononya tapi karena pompanya mati… (innalillahiii…) nah, baru pertama kalinya lagi nih si pompa mati, setelah dia diganti sekitar setaun yg lalu. anyway, the good thing is, kami jadi harus shalat di masjid. hehe.

etapi inti ceritanya sih sebenernya bukan itu.

karena si pompa mati dan kami semua berkabung, saya jadi terus mikir juga. apa kabar ya persediaan air bersih di dunia bandung?

sebagai warga antapani yg ngalamin jamannya susah air dan harus improvisasi (bentuk improvisasinya termasuk nampung air di rumah mbah di jl. aceh pake jerigen2, lalu diangkut ke antapani), saya cukup heran juga ketika bahasan tentang air bersih di perkotaan seolah-olah sekarang hilang dari peredaran. (mungkinkah dia dicekal dan ditarik dari peredaran, macam majalah2 yg dulu dibredel?)

sebetulnya, masalah air bersih di antapani (at least di rumah saya) belum sepenuhnya terselesaikan karena si air ledeng masih males2an ngalir ke antapani dan sekarang semua orang pa-dalem2 bikin pompa air tanah. sekarang di rumah saya pake’ 2 pompa: pompa air ledeng dan pompa air tanah.
si pompa air ledeng dipasangin sensor (bikinan) sendiri, sehingga dia bisa otomatis mendeteksi kapan ledengnya waras dan mengalirkan air ke sekitar rumah saya. praktis, ga ngabisin listrik, dan pompanya ga usah gede-gede. sedangkan si pompa air tanah dipasang sepaket dengan instalasi penjernihan airnya (yg kaya’ tabung2 gede itu lho), sehingga “tinggal” ditambahin PAC dan kaporit u/bisa dipake’.

nah, mari kita ngomongin perihal air tanah.
meskipun saya bukan geologis atau geofisis, setau saya, air tanah itu termasuk salah satu cadangan air yang ada di dunia. dia berasal dari air permukaan yang diresapkan ke dalam tanah lewat area hijau (taman, hutan, dsb). kalo’ ga salah sih namanya akuifer. ini saya nemu gambar dari google yang kaya’nya cukup deskriptif walaupun konteksnya di New Zealand, bukan di Indonesia.

nah, klo’ liat gambar di atas kan seolah-olah tanah yg kita pijak sekarang “disangga” sama si akuifer ini yah.. lalu saya jadi bertanya-tanya, apakah masih ada orang waras yang sadar, bahwa kalo’ kita terus2an ngambil air tanah, lama2 tanahnya bisa ambles? ato saya doang yang overreacted yah?

sedangkan sepertinya saat ini daur air sudah tidak seperti dulu lagi; ketika bidang serapan masih banyak, dan musim masih berlangsung secara reguler.

…nah, ini adalah skema siklus air yang ideal…

teman2 saya yang kemaren pada ngambil master lansekap & ngomongin tentang badan air pasti punya penelitian yang lebih mendalam dan jagoan daripada saya yang cuma pake’ logika sederhana:
kalo’ akhir-akhir ini setiap kali hujan besar Jl. Dago berubah jadi kali, saya yakin masalahnya tidak hanya sekadar drainase kota yang buruk.

saya barusan sebetulnya hanya bertanya-tanya. persediaan air di Kota Bandung sebetulnya semelimpah apa sih? kapan persediaan itu akan habis? berapa jumlah orang yang bisa dilayani oleh jumlah tersebut, dalam waktu berapa lama?

apa yang terjadi ketika Bandung tidak punya akses terhadap air ya?
pun apa yang akan terjadi ketika Bandung kembali menjadi danau?

2 thoughts on “air, udara, dan kebutuhan hakiki manusia

  1. bener bgt poets “kalo’ kita terus2an ngambil air tanah, lama2 tanahnya bisa ambles”. Ini istilahnya land subsidence, dan kondisi ini tmn2 GD dah neliti dan yg terparanh adalah di kota Jakarta dan Semarang ampe gedung2 mulai pd retak2 gt.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s