escapism | day 01

Solo-traveling always gives you time to see things differently; to experience journey to the fullest; to discover details as you’ve never been before; to surprise yourself. To get yourself lost in dazzling possibilities. Exploring your own adventure.

Kali ini saya ngambil cuti 4 hari untuk jalan-jalan seminggu penuh. Awalnya sih hanya berencana ngambil 2 hari cuti untuk main bersama para sepupu ke Singapura, nganjang ke rumah T’Nisa, dan memuaskan main di USS. Tiketnya udah dibeli, tuh: BDO – SIN – BDO. But later on, main ke Bangkok sebelum sampe’ Singapur sepertinya sangat menggoda, hehe. Jadilah saya, yang lalu diracuni Neng Intan yang sekarang berdiam di Bangkok sama misuanya, kemudian mencari tiket murah menuju Bangkok dengan modal nekad, diiringi dengan basmallah. Pilihan saya tentu jatuh pada maskapai “sekarang semua orang bisa terbang”.

Jadilah saya berangkat sendirian, akan ketemu Neng Intang di Bangkok (walau akhirnya rencana ini harus gagal karena force majeure dan berakhir dengan adegan saya kukurilingan Bangkok sendirian kaya’ anak ilang), lalu bergabung sama teman2 saya yg pada berangkat dari Bandung di Singapur.

Then there I was, with tickets in my pocket: CGK – KUL – BKK – SIN – BDO.
And so began the journey.

1 day, 3 cities.
1st flight: CGK – KUL, Minggu, 13 Mei 2012, 06.25 a.m.

Jadi perjalanan saya dimulai sejak jam 01.30 a.m. pada hari Minggu itu. Naik travel dari Bandung menuju bandara. Walaupun mbak-mbak travelnya “mengancam” bahwa sebaiknya saya berangkat jam 1 malam untuk tiba di bandara jam 5 pagi, saya tetep keukeuh berangkat jam 2 sajah; daripada jamuran nungguin di lounge terminal 3. Alhamdulillah, keputusan yang tepat. Saya sampe’ bandara jam 05.00-an. Perjalanan saya hari ini mencakup 3 kota: Jakarta, Kuala Lumpur, Bangkok. All in one day. As the aircraft flew, there began my adventure.

(Un)impressingly Kuala Lumpur.
Somehow, saya tidak terlalu terkesan dengan kota yang satu ini. Mungkin karena terlalu mirip sama di kota-kota besar Indonesia, mungkin juga karena terminal tempat saya mendarat agak kurang cantik, mungkin juga karena KL Sentral yang bener-bener kaya’ pasar dan tidak menarik. At least, not for me, who didn’t come there for some shopping. Menurut saya, KL tidak memberikan pengalaman baru, atau mengesankan akan memberi pengalaman baru.

However, toh saya tetap jalan-jalan juga di sana. Ya secara, yaaa, saya udah sampe’ sana.. Masa’ cuma mo naik kereta doang bolak-balik sampe’ bosen. Setelah minta peta ke bagian informasi di KL Sentral, duduklah saya di McD sambil brunch dan menentukan tujuan saya sesiangan itu.

ini adalah teman-teman seperjalanan saya di KL. petanya bisa diperoleh di information center terdekat, hp & kamera mah bawa sendiri, minumnya bisa dibeli di 711 terdekat.

Masjid Jamek dan sekitarnya.
Masjid Jamek bisa dicapai dengan menggunakan MRT dari KL Sentral. Ongkosnya 1,30 RM saja, dengan waktu tempuh sekitar 10 menitan kali yak? Dari situ, tinggal nyebrang deh ke Masjid Jamek.

Kebodohan saya adalah lupa, bahwa walaupun KL menggunakan GMT +8.00 pada jamnya, dia sebetulnya terletak pada garis bujur GMT +7.00. Sehingga, ketika dengan pede-jayanya saya sampe’ Masjid Jamek jam 12-an, dan saya nanya bisa ikut solat di mana, pengurus masjidnya tampak bingung. Ya iya, lah!! Itu kan seperti tiba-tiba datang ke masjid sebelah rumah saya jam 11 siang, terus nanya, tempat solat akhwat di sebelah mana. (Kebodohan yang baru saya sadari ketika saya denger adzan dari seberang jalan sekitar jam 13.30, hahaha!! Dungdungwati!!!)

Hhhnnnnaaaahh, karena ruang solat akhwat-nya belum buka pas saya dateng, muter-muterlah saya sebentar di sana. Foto-foto. Lihat-lihat.
Oiya, kalo’ mau masuk Masjid Jamek ini harus berhijab, alias menutup aurat. Saya, tentu saja, langsung disuruh pake’ kerudung untuk masuk ke area masjid. Selain itu, area solat (dalam dan luar ruangan masjid) hanya boleh diakses (dimasuki, digunakan) oleh muslim / muslimah. Jadi turis-turis hanya boleh foto-foto di pelataran masjid, tapi ga boleh masuk masjidnya.

Sambil nunggu masjidnya buka, saya terus jalan2 ke luar. Di sekitar Masjid Jamek, ada juga beberapa bangunan pemerintahan yang architecturally lumayan lucu-lucu.

Tapi yang paling saya suka adalah area di sepanjang sungai, dengan promenade, naungan pohon Ki Hujan (Samanea saman), dan deretan pohon zaitun di seberangnya.

jalanan sepi, promenade tepi sungai, naungan pohon Ki Hujan, dan deretan pohon Zaitun di seberangnya.. sehr schön..!!!

Sekitar jam 2 siang saya balik lagi ke masjid, solat & ngadem. Sungguh nikmat dunia ituuuuu, secara di luar panas bangettttt… Dengan matahari siang yang galak begitu, saya memutuskan untuk ngaso aja dulu sampe’ mataharinya agak condong ke barat sedikit. Sekalian mengistirahatkan pundak dan kaki, soalnya beban hidup saya hari ini jedi berat banget gara-gara ga nemu locker u/ nitipin ransel.

Agak sorean saya muterin blok itu lagi, masuk ke Kuala Lumpur City Gallery, yang di dalamnya ada maket Masjid Jamek, sejarah kota Kuala Lumpur, dan maket Kuala Lumpur di waktu malam. I have to admit: THIS IS AWESOME!!! I love how the information is presented attractively in this City Gallery. Soal pengemasan informasi yang berbau grafis-grafis lucu-lucu gini, kita memang masih kalah jauh. Tapi saya yakin, ketika kita bisa mengemas cerita, sejarah, dan impresi kota kita dalam bentuk seperti ini, yang lain lewaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaatttt… Hehehe.

kapan ya, kita bisa punya beginian, yang informatif secara substansi dan presentasi….

The Twin Tower.
Sore itu, setelah puas jalan-jalan di sekitar Masjid Jamek, saya naik kereta lagi ke KLCC, si menara kembar yang jadi kebanggaan Malaysia itu. Tapi somehow, saya juga ga seterkesan itu setelah sampe’ sana. Haha. (Ah, jangan-jangan ini mah gw aja yg hard to be impressed ya?) Tapi, frankly speaking, kesan saya ketika sampe’ KLCC hanya sekadar background yang oke untuk foto. Udah.
(Ok, now I started to sound cruel, ya?! Hehe.)

Petronas Tower: postcard-genic building

Ok, ok, let’s proceed to next stop, then.

Central Market.
Dalam perjalanan Masjid Jamek – KLCC saya lewat Central Market. Bangunannya ala art deco gitu, warnanya biru agak norak. Ga mungkin ga keliatan sih, hehe. Jadi, setelah saya bosan di KLCC dan masih punya cukup banyak waktu, saya memutuskan untuk jalan-jalan ke Central Market, cari oleh-oleh murah meriah lucu-lucu. Tapi sayangnya pas nyampe’ sini saya udah keburu males motret, hehe. Jadi hasil eksplorasi Central Market ini hanya berupa magnet kulkas buat ibu, beberapa lembar postcard cat air, dan early dinner di KFC.

Pas banget tuh, abis makan di KFC pas udah jam 06.30-an sore. Pesawat saya ke Bangkok itu jam 22.20; masih lama banget yak?! Tapi karena udah ga tau lagi mo main ke mana, udah cape, dan udah bosen, akhirnya saya menuju KL Sentral lagi untuk naik Skybus ke LCCT. Unluckily, di bus saya sebangku sama uncle-uncle kecun. Aduh, sumpah lah, itu perjalanan 1,5 jam berasa jackpot banget. Hahaha.

Seru ga, tuh?!😀
Tenang, tenang, keseruan akan berlanjut dan bertambah heboh di kota-kota berikutnya. Tungguin cerita Lost in Translation in Bangkok-nya yaaa…

Tell you later, fellows!!🙂

2 thoughts on “escapism | day 01

  1. *deg-degan*plus sirik*sigue bandung jakarta naik travel sendirian aja si mamam ngecekin di tiap waktu depart/arrive*huehehehe*

    oyeh oyeeeeeeh😀

    1. ini bapak-ibu jg rajin nge-cek sih..
      tapi alhamdulillah, kemaren dengan modal nekad dan bismillah, saya sampe juga ke sana jalan2 sendirian.. dan alhamdulillah juga, ga ketemu sama orang yg jahat, nipu, dsb…😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s