menata ruang, katanya..

saya, entah kenapa, sedang merasa bosan sekali sama kerjaan di kantor yang akhir-akhir ini agak kurang variatif dan kurang menantang. kantor saya memang cuma studio kecil yang sering (banget) jadi subkon proyek pemerintah gitu. well, bikin proposal normatif dan laporan (yang menurut saya ga penting banget) itu emang kerjaan saya juga (seolah-olah bikin laporan banyak-banyak kaya’ gitu sudah menjadi suatu kewajaran).. padahal saya bukan sekretaris…

nah, klo soal kebosanan saya sih biar jadi bahan obrolan seru lain sama bos-bos saya aja lah, yaa…
yang saya mau obrolin di sini adalah kebetean yang lain.

kan kami sering ngerjain proyek2 penataan kawasan juga nih.. dari sekian banyak proposal dan laporan yang pernah saya buat dua tahun ini, baru KAK ini yang saya baca beneran (karena harus saya ketik ulang), dan saya makin kesal dengan penataan ruang di Indonesia. kok sepertinya kaya’ ga pernah sekolah dulu, gitu lho.. sorry to say, ya.. bukannya saya yang paling pinter juga..

coba baca sepotong paragraf ini, yang saya kutip dari KAK kerjaan yang lagi saya kerjain:

Selain itu, keberadaan kawasan industri juga dapat berperan dalam membantu upaya pengendalian pembangunan spasial yang pada gilirannya dapat menciptakan lingkungan pembangunan yang asri, menjaga kelestarian lingkungan, memelihara koordinasi antara sektor, serta menjamin terlaksananya kepastian lokasi pembangunan.

saya kok ga ngerti ya..
apa hubungannya sih, “membantu upaya pengendalian pembangunan spasial” dengan “menciptakan lingkungan yang asri bla bla bla” itu???
tidakkah seharusnya kalo’ mau “membantu upaya pengendalian pembangunan spasial”, bikin kawasan industrinya jadi harus pada tempat yang memang peruntukannya udah untuk kawasan industri aja, ya?? maksudnya, ga terus terus-terusan, hayooooh weeeh, bikin kawasan industri di mana-mana.. termasuk di area-area yang harusnya adalah area hijau (misal: sawah produktif, dsb).

kenapa sih perencanaan ruang di Indonesia ga dibikin top down?
oh, sorry.. saya lupa!! udah dibikin top down, yah? dengan RTRWN yang terus didetailkan sampai RTBL / UDGL itu yaaa?? ah, ya, ya.. bener…
eh, tapi kok penataan ruang di Indonesia masih kerasa ga beres ya? oh, mungkin cuma perasaan saya doang kali yah… *thinking*

kalo’ aturannya udah ada, harusnya ga ada pelanggaran dong, yaaa?? yaah, setidaknya minim, laaaah…
jadi harusnya kan kawasan yang harusnya hijau (area konservasi), semacam Kawasan Bandung Utara, tuh.. harusnya kan dia tetap sesuai peruntukannya, kan yaaa? jadi ga terus diubah jadi permukiman, kan yaaa??

terus, kawasan konservasi / cagar budaya gitu jugaa… harusnya ga terus main diancurin aja buat bikin mall, aparemen, ato hotel baru gitu kan, yaa??

artinya, boleh ga saya berhipotesis gini?
ketika peraturan semacam itu – yang udah ada dan dibuat berdasarkan studi-studi ttg carrying capacity kota, sosiologi, dsb – dilanggar, artinya memang mungkin sebetulnya penataan ruang di Indonesia secara umum tidak dikendalikan oleh pemerintah, tapi oleh pemodal yang berdalih kebutuhan ruang?

saya setuju bahwa kebutuhan ruang hari ini beda sama 20 tahun yang lalu.
semua orang butuh rumah, butuh tempat tinggal, butuh tempat kerja.
tapi kalo’ artinya kita harus “menghancurkan” yang udah ada, menurut saya kita amat sangatlah goblok luar biasa, semacam ga pernah sekolah aja.

seingat saya, semoga saya tidak salah, orang-orang berpendidikan itu derajatnya ditinggikan, di hadapan Tuhan. lalu, manusia juga bertugas untuk menjadi pemimpin di muka bumi, bukan untuk membawa kehancuran.

jadi, menurut saya, tugas kita sebagai orang yang berpendidikan adalah untuk menyelesaikan masalah dengan kreatif.
jadi, dalam hal ini, misalnya.. ketika ada permasalahan dengan kebutuhan ruang hidup manusia (di kota), seharusnya kita (terutama teman2 arsitek & planolog, kali yaaa?) sebagai orang-orang yang berpendidikan, bisa memberikan solusi-solusi yang tidak generik.. bisa memberikan alternatif solusi yang  lain..

jadi, ketika setelah orang berpendidikan menjadi sangat banyak seperti sekarang ini;
saya jadi kembali bertanya-tanya, di manakah gerangan missing link-nya, sampai-sampai kita masih sering melakukan kebodohan-kebodohan yang hanya dilakukan oleh orang-orang tidak berbudaya dan tidak berpendidikan.

*maaf esmosi. saya bosan seperti ini terus. indonesia bisa jadi lebih baik, kok. kenapa kita harus bertahan dengan kondisi bobrok seperti yang ada ini, sih? kenapa kita mau terus-terusan dikibulin orang, sih? menurut saya, kalo’ semua orang di indonesia pandai dan cerdas, indonesia itu bisa jauh lebih kuat daripada negara mana pun di dunia, kok…*

8 thoughts on “menata ruang, katanya..

  1. Awalnya saya kira ini tulisan tentang menata ruang interior, ternyata tentang Tata Kota toh.. hehe

    Anyway, setuju sama kalimat terakhir kamu poets, “kalo’ semua orang di indonesia pandai dan cerdas, indonesia itu bisa jauh lebih kuat daripada negara mana pun di dunia, kok…”

    Berarti kuncinya adalah PENDIDIKAN. Sistem pendidikan kita harus dibenahi, dievaluasi secara menyeluruh, bahkan kalau perlu dirombak total. Karena seharusnya pendidikan itu meliputi tiga hal :
    1. Aspek Kognitif (pengetahuan/pemahaman)
    2. Aspek Afektif (sikap, perasaan, nilai2 moral, emosional)
    3. Aspek Psikomotorik (kemampuan praktek)

    Saat ini sepertinya pendidikan kita baru terfokus pada aspek kognitif saja. Tak heran banyak orang berilmu tapi gak mengamalkan ilmunya. Sudah tau aturannya tapi tetap melanggar aturan.

    Salam.

    1. ETA PISAN, JIIIII…. *jempol*
      menurut saya sih juga karena org2 indonesia yg termasuk kalangan pekerja, juga masih bekerja untuk mencari nafkah, karena kebutuhan dasarnya belum terpenuhi (pangan, papan, sandang)..
      jadilah bekerja = mencari uang

      jadilah udah tau salah, masih dilakukan juga;
      jadilah udah tau harusnya ga gitu, tapi ga bisa berusaha ngebenerin karena mungkin pekerjaannya akan jadi terancam, dsb..
      sehingga, yg udah sekolah tinggi-tinggi, yang udah sekolah mahal-mahal itu pelan2 lupa apa aja yang harusnya bener, dan yang mana yang emang udah pasti salah..

      sayangnya, walaupun mereka (si kalangan pekerja) ini pengen anak2nya ga jadi seperti dia dengan cara menyekolahkan anaknya tinggi2 dan mahal2 juga, tapi mereka juga jadi menciptakan suatu sistem yang menjebak anak2 mereka juga ujungnya… lingkaran setan…
      karena anak2nya belum tentu mau susah2 sekolah; anak2nya belum tentu mau cape’2 sekolah.. mending ngamen di perempatan, dapet duitnya cepet, ga usah mikir, tinggal genjreng2 trus nodong orang… lingkaran setan…

      jadi saya mah mau usul,
      gimana kalo’ kita kerja seolah-olah ga butuh duit?

      karena menurut saya, ketika kita ga menjadikan uang sebagai tolok ukur keberhasilan dan standar kehidupan kita, kita jadi bisa melakukan hal yang benar tanpa beban.. da insyaAllah ada jalannya, meureun ai niatnya baik mah😀 hehehe…

      ah, jadi ngacapruk.. hehe

      1. “ketika kita ga menjadikan uang sebagai tolok ukur keberhasilan dan standar kehidupan kita, kita jadi bisa melakukan hal yang benar tanpa beban” –> setuju bangeeet

        Tapi.. Orang Indonesia kalo gak dikasi gaji ga akan kerja poets. Kecuali dia udah punya warisan / tabungan, dia kerja cuma untuk aktualisasi diri aja dan amal sholeh..

        Tapi setidaknya niat kerja itu jangan cuma nyari duit, jadi kerja niatnya beramal sholeh yang dapet duit🙂.

      2. education, education, education.. hehehe…
        menurut saya sih selama ini sistem pendidikan di indonesia cuma menghasilkan literate-uneducated-person aja..😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s