a wedding

bukan, bukan.. sayangnya saya ngga lagi ngomongin pernikahan saya.. belum; yang punya tulang rusuk masih belum merasa terlalu kehilangan, sepertinya.. hehe…

akhir-akhir ini makin banyak undangan pernikahan yang datang. via Facebook, via sms, via email, bahkan undangan lisan. undangan dari sahabat, teman dekat, teman yang pernah dekat, maupun teman yang kenal selewat (memang lagi umurnya kali yeee??)..

merasa terintimidasi? hmm, mungkin, agak.. tapi lucunya undangan-undangan pernikahan ini membuat saya berpikir dan sedikit bernostalgia. betapa ternyata usia mempengaruhi sudut pandang kita terhadap sesuatu, termasuk (apalagi) pernikahan.

dulu, jaman saya masih kuliah saya ikutan Lingkung Seni Sunda ITB. dulu sih kami lumayan sering “ditanggap” main di acara nikahan orang, biasanya nikahan alumni LSS juga. dulu, ketika teman-teman saya rata-rata masih one phone call away semuanya, saya berpikir, seru juga kalo’ di acara nikahan saya nanti semua temen-temen saya bisa dateng. ya tentunya yaaaa, keputusan itu akan mempengaruhi variabel-variabel turunannya.

jadi, karena saya pengen semua temen-temen saya (yang dulu terasa banyak itu) dateng semua, tentunya saya (pernah) mengharapkan acara resepsi yang besar; setidaknya tempat resepsinya bisa menampung banyak orang, hahaha. sampai-sampai dulu saya & wildan pernah becanda, jangan-jangan klo orang-orang seperti kami nikah nanti, venue-nya bakal di Stadion Siliwangi, di lapangan bolanya; saking banyaknya yang diundang.

yah, kurang lebih itu yang ada di benak saya ketika saya masih umur 20; 22: lima hingga tujuh tahun yang lalu.

Lalu saya lulus kuliah. Lalu saya bekerja.
Lalu sekarang saya mikirnya (ternyata) udah ngga’ gitu.

Entah pengaruh pergaulan atau karena saya udah ngerasain sendiri susahnya cari uang, yang jelas sekarang saya punya “cita-cita” yang tidak semuluk itu tentang resepsi pernikahan. Saya justru jadi mengharapkan pesta kecil setelah akad nikah. Tamunya hanya keluarga dan teman-teman dekat. Pesta kecil yang hangat dan akrab.

Artinya kan dengan begitu saya tidak butuh venue yang besar, bukan?! Pun jumlah porsi makanan yang harus disiapkan jadi tidak sebanyak itu juga.

Isn’t it lovely, to have a small intimate party, just with family and friends?
Well, secara teoritis begitu kali, ya?

Menurut teman2 saya yang sedang mempersiapkan pernikahannya, impian pesta kecil itu ternyata tidak mudah diterima oleh keluarga; terutama keluarga besar. Kendala yang sama juga pernah dihadapi ayah & ibu saya ketika dulu mereka pengen akad aja, terus udah, ga usah resepsi. Ide yang langsung ditentang almarhum kakek saya.

Karena ternyata memang kita tidak hidup sendiri.
Karena, disadari atau tidak, ternyata pernikahan bukan sekadar mengikat janji, tapi juga tentang membahagiakan orang tua.

Saya jadi sering bertanya-tanya sendiri,
Apa yang kira-kira persepsi saya tentang hal ini ketika saya berumur 30 tahun? 35 tahun? 40 tahun?
Apakah persepsi saya tentang pernikahan dan segala hal yang mengikutinya juga akan berubah ketika nanti saya bertambah tua (lagi)?

3 thoughts on “a wedding

  1. hidup kita bisa terbagi 3 fase: fase “banyak orang”, “sedikit orang, “dan hampir tidak ada siapa2”. (suatu hari di desa sepi ; Paulo Coelho) nah kayaknya fase wedding ini kayaknya masuk kategori “banyak orang”😀

    1. uva, itu fase-nya paralel sama umur kan? let’s say kita hidup sampe umur 60 taun kayak Rasul. Berarti fase 1 ‘banyak orang’ adalah umur 0-20 taun, fase 2 ‘sedikit orang’ adalah umur 21-40 taun, fase 3 ‘hampir tidak ada siapa2′ umur ’40-60’ taun. Lah brati kalo nikah umur 28 taun yang diundang sedikit orang doong. (kayak yang puts harapkan, pesta kecil intim ga banyak orang)
      Ah aku ingin banyak temaann *ujug-ujug

  2. ya.. mungkin bisa berubah tapi intinya masih sama, hanya parameter quantity and quality nya mungkin jadi lebih variable.. seperti yang dialami mbak sekarang..

    bukan itu saja yang berubah, menjatuhkan pilihan pada seorang calon pun akan berubah juga, disini parameter toleransi yang harus meningkat.. yang notabene tak bisa lepas dari ijin Sang Pencipta.. dan itu manusiawi adanya..

    pada dasarnya apa yang kita perbuat hari ini adalah mengukir jalan dan dinding-dinding lorong tuk mendapat kan nuansa ruangan di hadapan kita nanti..

    Good luck.. go ahead.. we always support you..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s