galau

galau ga.lau
[a] ber.ga.lau a sibuk beramai-ramai; ramai sekali; kacau tidak keruan (pikiran)
Referensi: http://kamusbahasaindonesia.org/galau#ixzz1rExwVtLP

belakangan ini saya mulai merasa (semakin) terganggu dengan penggunaan kata “galau” yang semakin meluas digunakan di hampir semua kalangan masyarakat; terutama di kalangan anak muda dan remaja.
awalnya, saya pikir penggunaan kata “galau” ini hanya berupa trend sesaat dan hanya dijadikan bahan candaan: untuk mengganti istilah “bete”, “sedih”, “patah hati”, “kangen”, dan sebagainya. tapi ternyata kemudian kata ini dikembalikan ke definisi awalnya, yaitu menjelaskan kondisi pikiran yang kacau tidak keruan. awalnya, saya pikir penggunaan kata “galau” ini justru berupa olok-olok, karena secara tidak langsung kata ini (lagi-lagi, ini hanya menurut saya) merujuk pada kondisi negatif.
contoh:
1. Kenapa, lo? Sedih amat muka lo.. Lagi galau ya? > diucapkan sebagai olok-olok karena yang bersangkutan menunjukkan ekspresi negatif.
2. Ah, dia mah kerjaannya galau melulu.. Denger lagu sedih, ikutan sedih; denger cerita sedih, langsung ikut curhat… > (lagi-lagi) > diucapkan sebagai olok-olok karena yang bersangkutan menunjukkan ekspresi negatif.

lalu, alangkah terkejutnya saya ketika belakangan ini seolah-olah kata “galau” dijadikan alasan atas ketidakproduktifan seseorang. lebih terkejut lagi, ketika ternyata kata ini telah menjadi semacam ungkapan trendi yang meluas di kalangan remaja dan anak muda. seolah-olah, ketika kita tidak dalam kondisi “galau”, kita menjadi tidak keren dan tidak gaul.

betapa ironisnya, menurut saya, ketika suatu hal negatif lalu menjadi suatu hal yang trendi, lalu mendarah daging menjadi khazanah budaya lokal.

parahnya lagi, masyarakat umum pun seolah-olah turut melegitimasi dan mengamini bahwa kondisi “galau” adalah kondisi yang sangat berterima (acceptable) dan memerlukan penanganan khusus. lagu-lagu , acara televisi, acara radio, dan buku-buku yang menjual kegalauan sebagai tema utama sepertinya kini kian menjamur. seolah-olah semua lapisan masyarakat tanpa sadar memupuk kebiasaan galau dan menjadikannya budaya dan fenomena sosial.

say tidak menafikan bahwa setiap orang pasti pernah mengalami, baik sekali maupun lebih, kondisi galau. semakin normal ketika gejala galau ditemui pada mayoritas remaja dan anak muda yang sedang mencari jati diri, butuh pengakuan, dan butuh sarana berekspresi.
yang saya heran, dari sekian banyak jalan yang ada, kenapa sih harus memilih “galau berjamaah” sebagai bentuk ekspresinya? kenapa ngga’ mencari kegiatan lain yang lebih positif??

saya juga pernah galau. mungkin cukup sering, malah.
tapi saya menolak untuk berada dalam kondisi tersebut dalam waktu yang tak berkesudahan. saya memilih untuk galau, lalu bercerita pada orang-orang terdekat saya, mencari solusi masalah saya, lalu menyelesaikannya sesegera mungkin agar saya tidak terganggu lebih lama. saya juga tau persis, saya berpotensi mengalami gangguan jiwa kronis jika saya membiarkan diri saya berada dalam kondisi galau yang terlalu berlarut-larut; karena saya cenderung memiliki kecemasan berlebih.

lain halnya dengan mayoritas contoh lain yang ada di sekeliling saya, umumnya anak SMA dan mahasiswa baru sih, memang.. tapi saya tetap menolak untuk melegitimasi “galau” sebagai alasan ketidakproduktifan seseorang. saya masih dapat mentolerir alasan “tidak fokus”, “sedang bermasalah”, “sedih”, atau bahkan “patah hati”; karena menurut saya alasan-alasan tersebut menunjukkan proses penyelesaian masalah. sedangkan “galau”, menurut saya, cenderung merujuk pada kondisi negatif yang nyaris tidak berkesudahan, atau entah kapan akan diatasi.

yang juga tidak bisa saya terima, sebetulnya, adalah cara orang lain memperlakukan orang yang sedang galau tersebut. saya sering melihat orang yang galau diperlakukan dengan sangat hati-hati, seolah-olah dia barang pecah belah yang mudah hancur. (tapi, tidakkah semua orang pada dasarnya mudah hancur?)… perlakuan ini adalah normal, ketika hanya dilakukan, misalnya, pada saat mengetahui bahwa si orang ybs. baru kehilangan orang terdekatnya (putus cinta, meninggal, dsb); baru kehilangan pekerjaannya, atau apa lah.. hal ini normal, karena menurut saya sih itu menunjukkan simpati, bahkan empati. tapi ketika perlakuan ini berlanjut, tidakkah akan membuat jengah orang yang sedang galau tsb juga?

lalu saya jadi punya paradigma yang negatif terhadap kata “galau”.

benar adanya bahwa “galau” sendiri bermakna negatif.
dan faktanya, belakangan ini masyarakat terlalu mengagung-agungkan kata berkonotasi negatif tersebut.
seolah-olah, “galau” bisa dijadikan alasan ketidakproduktifan seseorang sebagaimana “sakit”.
tapi bahkan orang sakit pun minum obat untuk sembuh. jadi kenapa “galau” harus dipertahankan?

sedikit banyak saya merasa ketika seseorang menggunakan alasan “galau” untuk ketidakproduktifannya, orang itu secara tidak langsung menolak untuk menyelesaikan masalahnya dengan segera agar dapat menjadi produktif kembali. dan menurut saya, lingkungan masyarakat yang ada sekarang sepertinya sangat permisif terhadap hal tersebut: bahwa galau dan tidak menyelesaikan masalah dalam waktu dekat sehingga dapat menjadikannya sebagai alasan adalah hal yang baik-baik saja dan berterima.

ekspresi “galau” yang ada sekarang, menurut saya, identik dengan mengeluh secara berlebihan. kalau kita sibuk mengeluh, kapan kita akan mulai menjalani hidup kita? kapan kita akan mulai menikmati hidup kita? kapan kita akan mengisi hidup kita dengan hal-hal yang seru dan hanya dapat dilakukan saat ini?

dude, get a life!!!

life goes on. it doesn’t wait for you to finish your whines and sobs!!!

dan menurut saya,
hidup itu terlalu indah untuk dihabiskan dengan menggerutu dan mengeluh tanpa berusaha menjadikannya berarti dan berkesan.

so, what about positivity?🙂
even the darkest storm leads to a silver lining…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s