menanam ide di kebun pisang

ade: mbak, gw mo bikin jaket ah.. jaket HMNH..
saya: apaan tuh?
ade: himpunan mahasiswa non-him.. hahaha..
saya: lhaaa.. what’s the point of being non-him, then?! hahaha..
ade: nah justru itu…
saya: eh, loh?! emangnya lu non-him juga, de?!
ade: iya..
saya: jadi di rumah ini, kita bertiga: gw, mas, lu, ga ada yang him??? canggih. hahaha.

bahasan semacam ini tentunya sudah menjadi topik yang basi banget sampe udah hampir jadi kaya’ yogurt basi buat saya. tapi, kalo’ dibahas sekitar 5 tahun lalu, di kampus… wah, pasti lain lagi ceritanya tuh.. hehe.. tapi entah kenapa, topik ini bikin saya pengen membagi ide tentang doktrinasi / penanaman ide.

dari dulu saya ngga’ suka pelatihan-pelatihan yang berbasis “pemaksaan kehendak” semacam ospek, pelatihan macam SIAWARE atau apa pun itu lah. saya ngga’ suka, karena saya ga suka dipaksa.

ngga’ terima?
ah, telen aja dulu. soalnya saya agak males menghabiskan waktu saya debat soal sepele kaya’ gini.

well, mungkin ini juga merupakan bagian diri saya yang agak hobi lari dari masalah kali ya?
saya (dan 99% penduduk di dunia yang lain) hanya melihat dan mendengar hal yang ingin saya lihat / dengar. saya keras kepala pula.
jadi, memaksa saya melakukan sesuatu adalah suatu pekerjaan yang menghabiskan waktu Anda karena saya akan mencari penjelasan – sampai saya puas dengan jawaban Anda – atas semua pertanyaan “kenapa” yang ada di kepala saya.

kenapa saya tidak boleh memilih untuk jadi “non-him”, sedangkan saya merasa tidak memperoleh keuntungan apa pun dari menjadi seorang yang “him”? kenapa saya harus selalu melakukan yang disuruh oleh danlap? kenapa saya harus mengenal diri saya dengan cara A, sedangkan masih banyak cara-cara lainnya?

tapi, saya juga tidak menyangkal bahwa kegiatan2 di himpunan mahasiswa itu bermanfaat. saya sangat setuju dengan pernyataan tersebut. suwer deh!

saya juga tidak menyangkal bahwa pelatihan-pelatihan semacam SIAWARE / ESQ itu adalah ajang untuk mengenal diri sendiri lebih dalam. saya juga tidak menafikkan fakta bahwa kadang-kadang, orang tidak tahu bahwa dia tidak tahu, sehingga harus dikasih tahu.

tapi cara ngasih tahu orang kan beda-beda kan yaaaa.. hehe..

kenapa saya bilang pelatihan-pelatihan di atas cenderung bersifat “pemaksaan kehendak”?
karena – menurut saya – pelatihan-pelatihan tersebut menuntut pesertanya untuk mengikuti cara si pemateri. jika pun tidak, biasanya dia “memaksa” pesertanya (baik dengan cara yang halus maupun agak kasar) untuk setuju dengan si pematerinya.

sedangkan saya tidak suka menyetujui sesuatu yang tidak saya ketahui logikanya.

sedangkan menurut saya, ada amat sangat banyak cara lain untuk menanamkan ide di kepala orang. mungkin tidak seefisien doktrinasi massal seperti ospek, tapi cukup efektif juga.
saya lebih suka cara yang lebih subtle dan bergerak dari bawah sadar. pendekatannya biasanya jauh lebih personal, makan waktu, dan melelahkan. tapi hasilnya biasanya juga lebih tahan lama dan menciptakan keterikatan / attachment.

setiap keputusan yang diambil, pasti punya alasan dan latar belakang pemikiran, bukan? sebagaimana sintesis yang tentunya datang sebagai hasil analisis.
tapi, seberapa sering kita (Anda dan saya) membagi alasan tersebut kepada “anak buah” / rekan kita?

jarang? itu hal biasa.

karena, di kehidupan yang serbacepat ini, kita kerap menganggap membagi alasan tersebut (dan membuat rekan kerja kita benar-benar mengerti dasar dan konsep suatu tindakannya) hanya membuang-buang waktu.
tapi ingat, jika Anda menganggap menjelaskan rationale suatu pekerjaan adalah hal yang sia-sia, jangan pernah protes ketika Anda tidak punya “penerus”. dan jangan ngomong soal regenerasi sama saya.

beruntunglah Anda yang bukan bos saya, yang sering saya berondong dengan pertanyaan “kenapa”, yang tidak jarang (sengaja) saya ajak berdebat soal “bagaimana saya memandang masalah ini”.

akhirnya sekarang saya mulai mengerti, kenapa “mendidik” lebih sulit daripada “mengajar”.
tapi saya juga jadi mengerti, kenapa saya lebih suka konsep “mendidik” daripada “mengajar”.

karena “mendidik” memberi pemahaman lebih kepada konsep dan rationale. karena “mendidik” adalah membentuk pola pikir dan logika. karena “mendidik” itu membentuk tanah liat, sedangkan “mengajar” hanya memberi dekorasi pada cangkir tanah liat.

selama pendidikan di Indonesia masih sekadar institusi yang “mengajar”, selama itulah generasi muda kita akan terus tidak “terdidik.”

creating uneducated literate.

yah, just my two cents.

2 thoughts on “menanam ide di kebun pisang

    1. http://en.wikipedia.org/wiki/My_two_cents_(idiom) :
      “My two cents” (2¢) and its longer version “put my two cents in” is an American idiomatic expression, taken from the original English idiom expression: to put in “my two pennies worth” or “my tuppence worth.” It is used to preface the tentative stating of one’s opinion. By deprecating the opinion to follow — suggesting its value is only two cents, a very small amount — the user of the phrase hopes to lessen the impact of a possibly contentious statement, showing politeness and humility. However, it is also sometimes used with irony when expressing a strongly felt opinion. The phrase is also used out of habit to preface uncontentious opinions.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s