great minds share same ideas

disadari maupun tidak, diakui atau disangkal, masing-masing dari kita pasti kerap mengumpat sebagai bentuk protes atas keadaan (yang menurut kita) ideal dan sudah seharusnya terjadi demikian, tapi tidak terjadi.

beberapa contoh kecil:
kenapa sih orang2 (bodoh) itu mengendarai motor seperti jalan ini punyanya aja?!
ini mobil banyak banget pada mau kemana sih?! bikin macet aja.. kenapa ga pada naik angkot aja sih?! (dilontarkan sambil nyetir..)

dan saya yakin, masih sangaaaaaaaaaaaaaattt buanyaaaaaaak contoh umpatan-umpatan kecil lainnya.

tapi, berapa banyak umpatan itu yang jadi nyata?
maksud saya, bukan berapa banyak / sering umpatan itu dilontarkan dari mulut Anda (kita), tapi berapa sering umpatan itu memicu proses berpikir (kreatif) kita dan menghasilkan, setidaknya wacana, solusi.

saya tidak ragu menyetujui bahwa Bandung adalah sebuah kota kreatif.

karena saya mendefinisikan kota kreatif sebagai kota yang memiliki banyak sekali masalah, sehingga memicu warganya untuk berpikir, menyikapi masalah, dan menyelesaikan masalah dengan solusi yang out of the box.

memang, perlu diakui bahwa banyak solusi yang kemudian diterapkan adalah solusi-solusi yang kurang cerdas. tapi toh ternyata solusi-solusi bodoh itu juga mengundang kritik dan lompatan-lompatan pemikiran yang lain dari orang-orang yang lebih cerdas. (hehe. no offense. akui sajalah, memang ada orang-orang yang lebih baik tidak jadi arsitek, misalnya.)

great minds share same ideas.

begitu kata adik saya semalam, waktu kami tiba-tiba jadi ngomongin Bandung. adik saya sarjana elektro. tapi ternyata memang kami berbagi ketertarikan terhadap hal-hal yang menyangkut planning.

semalam, kami membahas soal banyak hal. saya pun lupa apa topik awal yang kami bahas. yang jelas, ujung-ujungnya kami sepakat bahwa perkembangan kota Bandung itu terlalu mbleber, ato istilah kerennya sprawling. akibatnya harga makanan jadi mahal.

apa hubungannya?
1. Kota Bandung jadi semakin jauh dari lumbung padinya (Majalaya, dsk.)
Makin jauh = jarak tempuh panjang = ongkos makin mahal.

2. Beban jalan di Kota Bandung sangat besar.
Ya, karena dilewatin hampir semua orang dari semua arah setiap hari sepanjang hari.
Kualitas jalan tetap, beban bertambah = jalan cepat rusak.
Infrastruktur jalan makin buruk = waktu tempuh makin lama = ongkos makin mahal.

kira-kira seperti itu lah.

lalu dia juga cerita, kemarin ini baru saja ngobrol-ngobrol sama gegedugnya RisetIndie, Saska. Karena ternyata adik saya lagi bantuin mereka bikin software juga buat keisengan yg berkaitan sama animatronic di RisetIndie. Lalu mereka ngomongin angkot.

semakin nyambunglah obrolan kami berdua, karena tepat setahun yang lalu saya dan beberapa orang teman pun merintis riset kecil tentang Kota Bandung dan kepadatannya. ide besarnya adalah membuat visi pengembangan Kota Bandung versi kami.

debatable. but worth every rationales argued.

kemudian obrolannya nyambung ke bahasan tentang ruang personal (personal space). membandingkan ruang personal orang kota vs orang kampung; orang eropa vs orang asia; orang asia vs orang hongkong; dsb. mengapa bahasan ini jadi menarik? karena jumlah manusia, insyaAllah, sampe’ nanti kiamat akan nambah terus. tapi bumi tidak bertambah besar. tapi area yang dapat dibangun & dihuni (buildable area) pun ga akan nambah – kecuali Anda mau punya rumah pas di pinggir tebing, di lahan kritis, di mulut gunung berapi, dsb. kita (terutama para arsitek dan planner, menurut saya) perlu punya kepekaan atas hal tersebut, karena keberhasilan desain kita mungkin ditentukan oleh kemampuan kita membaca layer-layer yang tidak teraga (intangible). semacam layer sosio-ekonomi, layer psikologi, dsb. bukan berarti kita harus jadi psikolog / sosiolog sih; cukup punya wawasan ttg hal-hal di luar disiplin ilmu kita. pasti berguna, kok. karena saya percaya, tidak ada informasi yang tidak berguna. hehe.

cerita berikutnya loncat ke obrolan adik saya dengan genggong mainnya, yaitu seorang sarjana psikolog yang agak sableng dan seorang sarjana teknik industri yang baru pulang abis ikut Indonesia Mengajar dan ga kalah gokil.obrolan mereka tidak kalah menarik. masih berkisar antara “kebutuhan yang diciptakan”, “daya beli masyarakat”, “pendidikan murah”, “perilaku manusia”, “community-based-development”, “there’s no such thing as free lunch”.

hal-hal yang mungkin menurut kita remeh-temeh, tapi pengaruhnya besar.

memang, bahasannya hampir selalu dikemas dalam suasana warung, kopi hitam, dan kacang kulit. tapi tidakkah obrolan warung kopi selalu menarik?😉

tapi, kembali ke bahasan awal kita, yang hampir terlupakan:
persis seperti inilah proses mengumpat yang memicu pemikiran kreatif seperti yang saya maksud di atas.

dan saya sangat percaya bahwa proses penanaman ide, seperti yang difilmkan Christopher Nolan dalam Inception, memang terjadi demikian adanya. ide itu semacam bola salju: semakin sering digulirkan, semakin besar bolanya. dan hanya orang-orang dengan pikiran terbukalah yang bisa melihat kesempatan (untuk memperbaiki kondisi yang ada) dari setiap ide yang ada. hanya orang-orang dengan pikiran terbukalah yang akan saling memperkaya ide-idenya.

yang bisa saya lakukan sekarang mungkin baru sebatas membagi wacana. tapi, jika pun itu adalah peran saya dalam memperbaiki yang salah, sepertinya saya tidak terlampau keberatan.

banyak sekali pemikiran kecil yang ingin saya bagi. semoga saya bisa agak lebih istiqamah menulis tahun ini. hehehe.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s