tarakan (d01) : prelude

alhamdulillah, tahun ini saya berkesempatan untuk liburan yang disponsorin sama kantor lagi (baca: harus survey, tapi saya malah kesenengan karena bisa off dari kantor, haha!).. tapi menurut saya ini prestasi lho, setidaknya buat saya sendiri.. karena selama ini saya belum pernah travelling sendirian.. biasanya pasti ada temennya.. nah, jadi ini first time ever i become a solo-flyer….

well, karena katanya picture paints a thousand words, saya cerita lewat foto-foto aja yah.. semoga cukup mewakili keseruan-keseruan yang saya temui.. selamat menikmati.. ^___^

Pada suatu selasa dini hari yg tidak terlalu cerah, ketika mata pun masih buram dan belum bangun betul, saya berangkat ke bandara Soetta. Berangkat ke Tarakan, yang katanya kota minyak. Lihat pesawat siap-siap terbang, lihat orang-orang yang sudah sibuk mondar-mandir di bandara, lihat (sepenggal) kota Jakarta yang masih setengah tidur karena yang biasanya sudah bersinar garang masih sembunyi malu-malu di balik awan.

Lalu lihat kota Balikpapan dari atas sebelum akhirnya mendarat dan transit di sana, sarapan sebungkus biskuit, dan melanjutkan perjalanan ke Tarakan. Lihat area tambak & rawa yang polanya bagus sekali. Sampai akhirnya pulau tujuan saya muncul: Pulau Sadau di Tarakan.

Setelah dapat hotel, makan siang, dan main ke Bappeda, saya diantar menuju tempat calon jembatan Tarakan – Sadau akan dibuat. Tapi kami mampir dulu ke salah satu lokasi pembibitannya Dinas Pertanian, karena Bapak D ada proyek di sana. Jadilah saya punya banyak obyek foto lucu-lucu, termasuk bangunan semi terbuka yang sepertinya difungsikan jadi ruang serba guna / mushola, kawat untuk rambatan tanaman, dan bunga-bunga lucu.

Sampai akhirnya kami tiba di TKP dan Bapak D parkir lalu nantangin, “berani ga, jalan dari sini sampai pantai?” | “emang medannya susah, pak?” | “ah, ngga juga sih kalo’ susah mah.. cuma 2 km kok…” | “nanjak?” | “ngga…” Lalu berjalanlah kami. Dan somehow, pemandangannya mengingatkan saya pada Bangka. Jembatan kayu, rawa, jalan setapak, jalan berlumpur, udaranya yang berat & lembap.

Ada pelataran luas yang hanya ditanami beberapa Accacia mangium yang masih kecil lalu mengecil jadi jalan setapak masuk ke hutan akasia. Ada balok-balok kayu di tanah, yang seperti jadi penunjuk jalan dan penyelamat dari tanah-tanah jeblog. Dan tentu saja, telek dung alias eek sapi yang bertebaran di mana-mana. *eeuwwhhh…*

Lalu di depan seperti ada pelataran luas, dan lautnya (akhirnya) kelihatan!! Are we there yet?? *seperti Donkey bertanya pada Shrek* Dan ternyata kami baru sampai Suaran, bekas pabrik pengolahan kayu, beroperasi sejak tahun 1980an akhir sampai entah kapan, karena wujud bangunannya saat ini ya beginilah; mayoritas sudah rata dengan tanah.

Setelah pelataran kosong bekas bangunan yang sekarang sekitarnya dipake’ merumput sama sapi-sapi (yang salah satunya bernama Bella, menurut seorang ibu kenalan Bapak D yang sedang ngarit cari rumput); eceng gondok!! *tring! Formasi Baringtonia, kata Nope’* ah, artinya udah deket pantai!!! Lalu ada waru, rawa bakau… Looked to the right, and…..

PANTAI!!!! alhamdulillah wa syukurillah!! It’s worth the 2 km trekking, by the way. Tapi ternyata perjuangan belum berakhir, karena saya harus melewati rawa bakau ini dulu, yang walaupun ga seberapa dalam tapi becek & bau sulfur. And guess what? Yak, lokasi jembatannya bukan di sini, masih harus jalan lagi 100 – 200 meter ke depan.

Nah, itu Pulau Sadau di seberang sana. Konon jaraknya sekitar 834 m dari tempat saya berdiri waktu motret ini. Dari titik ini, nanti akan ada jembatan menuju Sadau, di area bekas pelabuhan kayu ini; yang pantainya berlumpur, dan batu kali bulet-bulet yang ada di pantai ini pun konon katanya didatangkan, tidak berasal dari sini. Nah, itu tampak belakang dan tampak samping Bapak D, insinyur sipil yang ternyata hobi motor gede, sudah keliling Indonesia, dan doyan offroad.

Tapi sore belum gelap, jalan masih panjang. Kami masih harus balik lagi ke tempat parkir mobil. Another 2 km trekking, then. Kami lewat trayek berbeda, yang menurut Ibu Penggembala lebih kering jalurnya. Walau ternyata sama nyawahnya juga dan kami jadi berpapasan sama Bella, sapinya. Lalu belok lewat area permukiman warga, yang jalannya sudah bagusan. Jadi bisa lihat-lihat beberapa rumah lokalnya dan lapangan tempat bocah-bocah main sebelum akhirnya sampe mobil.

Lihatlah tranformasi kaki saya dari awal perjalanan: kena becek di kebun pembibitan, masuk tanah becek, hutan akasia, Ex-Suaran. Lalu saya melintasi rawa bakau. Lalu cuci kaki di tepi pantai. Lalu nyawah lagi lewat jalan yang (katanya) lebih kering padahal tanah gemburnya menyebabkan kaki saya melesak sampai semata kaki. Untung saya mengurungkan niat untuk berangkat bersepatu-keds-ria. Bisa dibayangkan yang terjadi kalo’ saya tetap pake’ sepatu keds atau sneakers: bisa-bisa besoknya sepatu saya akan jadi ga bisa dipake’ karena basah. Hahaha.

Setelah ngaso bentar & bersih-bersih di hotel, saya akhirnya harus cari makan malam juga karena lapar. Saya nginep di Hotel Makmur, Jl. Jend. Sudirman. Kamarnya cukup, bersih, decent, dan ga terlalu mahal. Lalu jalanlah saya ke arah perempatan Jl. Yos Sudarso, di sana ada Plaza THM & Mall Grand Tarakan. Long story short, akhirnya saya nyangkut di KFC juga karena masih belum tau mau ke mana, hahaha.

 

okay, cerita hari berikutnya diterusin nanti dulu yah…
saya mau menikmati liat bayangan saya di jendela kereta api dulu (secara, udah gelap di luar) dan mencari tahu, ini saya udah sampe mana sebenernya… hehehe….

2 thoughts on “tarakan (d01) : prelude

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s