pencitraan sampe mampus

baru2 ini saya membahas isu terkini (yang menurut kami) sedang menjadi fenomena baru di kalangan anak muda jaman sekarang. (by “muda” means bocah-bocah yang berusia SMP, SMA sampai kuliahan jaman sekarang): pencitraan.

Obrolan ga penting ini dimulai ketika saya nebeng iqbal setelah latian tenis. Ketika seminggu sebelumnya dia habis sibuk ngurusin sebuah acara berskala internasional yang berbau berkebun dan lingkungan hidup di satu-satunya (what-so-called) hutan kota di Bandung. Dia nanya, intinya, twitter itu efeknya apa sih ke dunia nyata? Sebesar itu yah?

menurut saya, again, itu tergantung pemakainya…
ada orang-orang yang menggunakan si burung pekicau untuk kampanye,
ada yang untuk jualan barang dan jasa,
ada yang emang hobinya menceramahi dan berbagi sama orang sehingga sering bikin kultwit,
ada yang emang seringnya hanya numpang shout out aja, seperti saya,
ada yang hanya ikutan trend aja…

saya sih merasa bisa dapet banyak informasi dalam satu waktu dari twitter…

lalu kami membahas soal anak2 muda jaman sekarang yang sepertinya hobi bener gabung di suatu komunitas; tapi dengan komitmen yang bisa agak dipertanyakan. Memang, ada orang2 yang bergabung di suatu komunitas karena memang peduli / mengerti; tapikantidak sedikit juga orang yang hanya ikut2an temen. Atau mungkin yang lebih parah, ikutan komunitas cuma untuk nampang dan nebeng eksis, supaya kelihatan aktif di mana-mana.

 

Ternyata topik bahasan serupa muncul juga ketika lagi ngobrol ga penting sama seorang teman yang sekarang lagi kuliah di enggris sono. Kali ini kami membahas sebuah konser, yang menurut saya pelaksanaan di lapangannya hancur lebur berantakan. Ternyata, menurut si teman saya ini memang sekarang sedang terjadi sebuah fenomena yang nyata ada di level anak kuliahan.

“anak jaman sekarang itu mental artisnya luar biasa, teh… semuanya pengen nampil, semuanya haying kapoto… harus selalu under the spot light… jadi ga ada tuh yang mau ngurusin backstage dan hal-hal yang kaya’ gitu…”
“really?? Masa iya sih, kep?”
“ih, beneran, teh!! Jadi yah, denger2 sih ada fenomena baru: semua anak2 di kampus teh kaya’ pabanyak2 ikutan ekstrakurikuler gitu…”
“buat apa??”
“buat di CV…”
“heh?! Aneh, ih..”
“iya, memang… jadi kalo’ ada acara apa2 teh mereka pengen selalu terlibat… tapi semuanya pengen tampil, jadi ga ada tuh yang mau disuruh ngurusin backstage…”
“lah… buat di CV mah yang penting kualitas, kali.. bukan kuantitas…
“emang.. tapi mereka kan ga tau, teh.. haha..”
“haha.. kok bisa jadi gitu ya? Apakah ini ada hubungannya sama teknologi, kep?”
“social media, teeehh….”
“ah, ya.. itu maksudku… tapi kenapa terus mereka harus selalu under the spotlight?”
“pencitraan lah, teeeeh… anak2 jaman sekarang kan ganti status fb / twitter sering banget…”
“haha.. ya, ya.. riya dong, jadinya.. kalo tujuannya cuma biar orang tau dia lagi ngapain, ikutan event apa…” (atau jangan2 saya yang terlalu naïf yah??)
“ahaha… ya gitu deh… miris juga….”

Tapi tetap saja, hal tersebut ga masuk di logika saya.
Menurut saya, dengan melakukan hal tersebut di atas, mereka melewatkan kesempatan yang sangat besar untuk belajar banyak, tentang segala macem…

Dan menurut saya, ketika bocah-bocah itu mencari “pengakuan” dan perhatian di tempat lain dan ranah publik seperti itu (social media, dsb) artinya dia mungkin tidak mendapat cukup perhatian (dari orang tuanya, mungkin?). karena menurut saya, ketika seseorang mendapatkan cukup perhatian (perhatian = attention, penghargaan atas prestasi, dsb) di lingkungan terkecilnya (keluarga), dia ga perlu mencari “pembenaran” atas eksistensinya di tempat lain. Dan dia akan dengan mudah mingle dan berbaur di tempat lain tanpa merasa dirinya kurang dari orang lain.

Kebayang ga sih?
Well, ya mungkin ini saya berkaca dari diri saya sendiri sih…

Ketika saya sudah bisa mengekspresikan diri saya apa adanya di rumah, itu berarti saya bisa merasa nyaman dengan diri saya.  Saya menerima diri saya apa adanya.
Sehingga, ketika saya berinteraksi di luar rumah, saya akan mempunyai suatu tingkat kepercayaan diri tertentu. Karena saya sudah berdamai dengan diri saya. Karena saya sudah merasa nyaman menjadi diri saya.

Ketika saya tidak merasa nyaman di rumah, saya akan mencari tempat lain yang bisa membantu saya merasa nyaman: tempat yang menghargai prestasi saya, tempat yang menghargai saya, orang2 yang menganggap saya spesial, orang2 yang bisa dan mau menerima saya apa adanya. Ketika saya tidak mendapat perhatian itu di rumah, saya akan mencari di tempat lain.

Saya tidak paham.
Sebegituparahnyakah krisis eksistensi yang dialami anak2 jaman sekarang, sampai2 hal itu terbawa hingga usia kuliahnya??

 

Sebesar itukah ternyata efek social media pada perkembangan emosi dan psikologis remaja jaman sekarang?

2 thoughts on “pencitraan sampe mampus

  1. euuu, semacam silogisme simpel ini poets,
    berarti kalau sy ngga merasa perlu kokomunitasan, sy nyaman di rumah yah?

    aw, pantesan mager mun di rumah teh ;p *eh itu mah beda ketang*heu*

    1. mmmm.. ga literally gitu juga sih, va…
      justeru gw penasaran, kenapa anak2 jaman sekarang cenderung lebih seperti merasa insecure dengan dirinya sehingga selalu hayang kapoto.. jadi seolah2 kalo dia ga “manggung” teh artinya dia ga penting / ga kepake, gitu….

      menunjukkan moralitas bangsakah fenomena ini: semua pengen kapoto.. ga ada yang mau jadi bagian kecil dari sesuatu yang besar….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s