kebutuhan yang diciptakan

istilah itu saya dapat dari harian Kompas Minggu yang terbit tadi pagi.. ada artikel menarik, judulnya “Di Bawah Penjajahan Ponsel”, yang tentunya membahas tentang ponsel dan bagaimana dia akhirnya sekarang (seolah-olah) menjadi sebuah kebutuhan…
saya mungkin termasuk ke dalam golongan orang yang masih bertahan dengan ponsel lamanya dan belum berpindah ke lain hati selayaknya sekumpulan orang yang lain.. well, saya juga bukan orang yang paling anti-kemapanan sedunia siiih.. tapi saya masih belum (atau tidak?) merasa butuh sebuah ponsel rasa buah yang tampilan antarmuka-nya menyerupai (atau bahkan lebih canggih?) daripada komputer rumah.. yang akhirnya menjadi penanda status sosial seseorang, yang akhirnya menjadi simbol anak gaul masa kini… yaaaaaah, ga salah-salah amat juga siih, toh ngga’ semua orang yang pake’ ponsel cerdas rasa buah itu menggunakannya karena gaya… hehe…

tapi, mungkin alasan saya tidak membeli ponsel rasa buah itu adalah (selain ga kebeli juga sih, maksudnya..) saya tidak suka memiliki benda yang dimiliki semua orang.. hahaha.. so shallow, ha? well, maybe i am :p

okay, lalu mari menengok efek keberadaan ponsel yang lain.
menurut saya, dengan adanya ponsel di genggaman mayoritas orang saat ini, orang cenderung tidak menghargai janji yang sudah dibuat.. kita bisa dengan mudah membatalkan janji yang sudah kita buat sebelumnya hanya dengan mengirimkan sebuah pesan singkat atau dengan sebuah panggilan telepon:
“maaf, saya mendadak tidak bisa datang..”
” maaf, saya lupa kita punya janji..”
“gimana kalo’ pertemuan kita nanti sore digeser aja jadi besok malam?”
well, tidak buruk juga, selama dilakukan dengan alasan yang benar.. tapi saya sih suka bete kalo ada orang yang mendadak membatalkan janji begitu saja… (yaaaah, walau saya pun tidak bisa dibilang tidak berdosa kalo’ soal yang ini😀 hehe..)

belum lagi soal spatial awareness yang sedikit banyak berkurang dengan adanya ponsel (terutama ponsel rasa buah itu).. dan membuat orang-orang berponsel seringkali asyik dengan dunianya sendiri: dunia dalam ponsel… mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat…
dan kalo’ kata temen saya, sepertinya norma kesopanan di masyarakat juga ikut bergeser dengan menjamurnya kebiasaan ini… kita menjadi terbiasa mengabaikan orang yang sedang berbicara di dekat kita, kita menjadi terbiasa berinteraksi tanpa tatap muka (yang menurut saya memiliki potensi nona-komunikasi dan nona-berdiri-di-bawah yang jauuuuuuh lebih besar)… bahkan kita menjadi terbiasa menganulir kebiasaan untuk bicara tanpa melihat lawan bicara kita..

maksud saya, Anda bisa ngobrol sama saya berhadap-hadapan di sebuah kedai kopi, Anda ngomong sama saya, tapi mata Anda tidak tertuju kepada saya melainkan kepada layar ponsel Anda..
(kalo’ ini benar2 terjadi, percayalah, saat Anda melakukan itu, saat itu pula saya berpikir untuk meninggalkan Anda di meja itu sendirian saja…)
yah, mungkin saya memang wanita konvensional.🙂

well, mari kembali ke “kebutuhan yang diciptakan”…

akhir-akhir ini saya agak kangen juga bikin gambar manual.. walau sketsa saya juga cenderung buruk rupa dan tidak informatif (kecuali sketsa pantat gajah waktu itu), tapi sepertinya saya sudah lama tidak melakukan kegiatan coret-coret itu… kenapa?? karena sekarang saya bisa coret-coret di komputer, pake’ media sketsa-nya Mbah Google, saya udah langsung bisa bikin sketsa yang oke punya dengan lancar jayaaaa… tanpa distorsi, sodara-sodara…. tapi kemudian saya lupa caranya mensketsa… sepertinya piranti lunak pembuat sketsa-nya Mbah Google sekarang bisa saya kategorikan sebagai kebutuhan yang diciptakan yah? hehehe…

lalu saya ingat, beberapa waktu lewat, ayah saya sering sekali menawarkan membelikan seekor laptop, peliharaan baru.. beliau bertanya, “lo ga butuh laptop, mbak? kalo emang butuh, gw beliin nih.. cari aja yg spek-nya oke….”
wuih.. happy happy dong ya, kitaaa… secara, ga usah keluar duit dari pesak trus bisa dapet laptop oke… lalu saya berpikir, apa iya saya memang butuh?? toh saya kan setiap hari ngerja pake’ komputer kantor.. di rumah pun saya kerja pake komputer rumah, PC… dan saya bukan golongan manusia fakir bandwith yang nongkrong di cafe untuk internetan murah pake’ WIFI (da saya mah biasanya ke warnet atau pinjem modem portable bapak kalo mau nginternet😀 haha).. tuh, kan.. jadi sebenernya saya juga ga butuh2 amat laptop, kan?? belum butuh, tepatnya…

jadi, sepertinya saya akan mendefinisikan kebutuhan yang diciptakan ini sebagai kebutuhan tersier… kebutuhan yang baru akan saya penuhi setelah kebutuhan primer (sandang, pangan, papan) dan sekunder saya terpenuhi… saya sudah cukup boros, sepertinya saya tidak perlu menambah daftar pemborosan saya dengan ponsel..😀

demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s