catatan tengah malam

Konon katanya, ketika seorang manusia mencapai umur sekitar pertengahan 20an, manusia tersebut akan mengalami sesuatu yang disebut quarterly life crisis.

Well, demikian lah saya, sedang berusaha melewati fase yang seru-seru-ngga ini.

Sebetulnya, menurut saya, quarterly life crisis ini mungkin bisa dilalui dengan cukup baik jika Anda:

  1. berkencan dengan karier / sekolah Anda
  2. berkencan dengan komputer / gadget Anda
  3. berkencan dengan teman-teman Anda
  4. berkencan dengan teman kencan beneran

walau tentunya tidak menutup kemungkinan, opsi a, b, c, dan d di atas juga menimbulkan masalah lain dalam quarterly life crisis Anda. Itu sih bukan urusan saya, kaya’nya😀

yang agak lebih repot mungkin ya kalo kaya’ saya ini yang terjebak dalam opsi e:

berkencan dengan diri sendiri. Hehehe.

It makes you (me, at least) more often.

About life. About living. About love.

Yang membuat saya dan teman saya punya paket kalimat sapaan yang kemudian hari suka dijadiin becandaan:

“how’s life?”

“life’s good.”

“how’s love?”

“love’s been better.”

Dalam kaitannya dengan L-O-V-E, saya dengan optimisnya akan bilang bahwa saya bukanlah wanita pertama, terakhir, maupun satu-satunya yang pernah mengalami cinta bertepuk sebelah tangan. Atau mungkin tepatnya, ngeceng, tapi ga tau apakah orang yang dikeceng juga mengeceng saya balik.

Ini adalah kategori love’s suck.

Entah se-straight forward apa pun saya dalam hal yang lain (saya dikenal cukup tidak bisa berbasa-basi dan bermanis-kata di kalangan teman-teman saya – red.), tapi untuk urusan yang satu ini, sepertinya sulit sekali untuk being straight forward.

Mungkin juga karena ternyata deep down inside, saya masih menganut paham-paham konservatif tentang wanita harus menunggu, ga boleh jual murah dengan bilang suka duluan, harus jinak-jinak merpati.

Well, saya bukan merpati.

Dan saya tidak jinak. *hmm.. ini agak misleading ya istilahnya?? hehe*

Tapi mungkin juga karena saya, seperti layaknya Anda dan berjuta umat manusia yang lain yang ada di muka bumi yang katanya tidak bulat melainkan ellips ini, sangat takut terhadap penolakan dan kegagalan.

Well, I use to fight for what I want. And failure / rejection break me easier than any other thing.

Mungkin ini yang namanya belum bisa ikhlas.

Walaupun, mungkin saja ini berarti pangeran putih berkuda tampan yang saya keceng ini juga sebenernya ngeceng saya tapi sama-sama takut sama penolakan. *ini mah ge-er mode on aja ceritanya*

Dan saya kemudian selalu iri sama para pria yang bisa menyatakan pendapat dan keinginannya dengan gamblang tanpa adanya efek samping yang berupa pandangan negatif dari lingkungan sekitarnya.

Nah, lagi-lagi ini kelemahan saya: I do really mind (too much) of what people say or will say about me. Dan saya tau, kalo saya terus2an begini, saya ga akan sampe kemana-mana…

But beyond those things, I just quietly wondered,

When love becomes nearly impossible to be told,

When love becomes a silent treatment between two people,

When love is unspoken,

How far will you go beyond your walls-of-ego to make it right?

How long will you keep the persistence for a love that you believe is right?

And what if some day,

One day,

You finally find a glimpse of courage to say it loud?

Ini sedikit curhatan Iga Mawarni soal Ngomong Cinta..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s