taking woodstock [ a film by Ang Lee]

dalam rangka memperingati long weekend dadakan yang konon baru diputuskan bapak2 menteri menjelang detik2 kepulangan umat2 manusia dari kantornya masing2 kemarin..

tadi malem, saya dan adik saya yang baru pulang dan kemudian dia ngemil Bebek Betutu Oom Anom lagi nonton TV.. setelah nonton Big Fish-nya Tim Burton *likey, likey!*, konon katanya abis itu ada film “Taking Woodstock”

kata adik saya, kata temennya itu film seru.. tentang jaman2 awalnya festival musik paling bergengsi sepanjang masa yang tidak lain dan tidak bukan adalah WOODSTOCK MUSIC FESTIVAL..

intinya sih si festival musik dan perdamaian 3 hari 3 malem itu lagi cari venue, karena dia diprotes sama mantan calon venue-nya.. lalu tersebutlah seorang bocah bernama Elliot, yang terus menawarkan kampungnya untuk dijadiin venue festival musik itu.. kampungnya namanya White Lake…

yang saya tangkap sih ya, si kampung White Lake ini kampung yg hidup segan mati tak mau gitu.. sepi, ekonominya seret & seadanya, isinya orang2 tua yg konservatif, boring.. ah, you name it lah!

nah lalu setelah pihak Woodstock-nya setuju untuk bikin festival musik di situ, mulailah keramaian dan ceritanya.

the crowd (500.000 orang penonton!!), acara persiapannya yg juga melibatkan sejuta umat manusia yg ada di seluruh dunia (lebay!), the hippies, the emergency lodgings, the pro and the cons…

well, yang pasti, it was a damn crowd there.

well, here’s what i saw:

  1. JANIS JOPLIIIIIIIIIIINNN….!!!😀
  2. man! itu orangnya banyak mampuuusss… trus mereka lodging-nya emergency-an gituu… jo to the rok: JOROK, kakaaaaaaaakk.. geuleuuuh…
  3. JIMI friggin’ HENDRIX…!! (man! sepertinya setelah dipikir2, saya mau2 aja berkubang di bukit itu u/nonton Mr. Hendrix :D)
  4. imagine: how many sqm you have to provide for parking lots.. T____T major traffic congestion, for sure!
  5. ya Tuhan, itu konsernya di bukit kan yaaa?? itu tadinya bukitnya bagus lhoo.. the hills are alive gitu, macam sound of music..!! trus dalam seminggu, bukit hijau itu berubah jadi kubangan lumpur.. zzzz……
  6. and behold: tumpukan sampahnyaaaaaaaaaaaa…….!!
  7. tetapi eh, tetapi.. warga kotanya kaya mendadak, cing..! lo bayangin aja, tiba2 ada setengah juta orang masuk ke dalam kota lo, butuh fasilitas penginapan dan makan minum..
  8. dan si setengah juta orang itu jadi tau ada tempat bernama White Lake, tempat si Woodstock itu berlangsung…

quite an effective way to promote a place, eh?!

so this is what i call “a successful branding strategy”😀 hehe..

well, speaking of “successful branding strategy”, dan kaitannya dengan “place making”, Woodstock jelas2 bukan yang pertama dan terakhir melakukannya.. sebut aja Silicon Valley, SoHo, Bilbao, dan teman2nya yang lain yang masih banyak…

mari ambil contoh Bilbao di Spanyol.. salah satu kota pelabuhan terbesar di Spanyol yang mengalami industrialisasi besar2an.. trus dia jadi kota yang tidak indah dan bukan tujuan wisata.. tentunya kalah jauh dari Barcelona…

sampai (kalo ga salah yaa, cmiiw, please..) pada suatu saat, Guggenheim foundation lagi cari venue untuk museum barunya, dan si Bilbao ini mengajukan diri…

dan dibangunlah sebuah benda besar berbentuk entah-entah, berbahan dasar titanium yang dibikin sm Frank Gehry, “The Guggenheim Museum of Bilbao”

from zero to hero.

from nothing to something.

trus saya jadi agak mengingat2 beberapa tahun belakangan ini ketika jargon2 “creative industry” dan “creative anything” lainnya mulai ramai diomongin orang di Bandung.. festival musik lah, festival kaos2 dengan merk ga terkenal berharga mahal lah, festival film2 ga beken, dan seterusnya..

seru yah, banyak acara😀 *party*

sungguh, sepertinya crowd seperti itu sempat agak lama hilang dari Bandung, ya?😀

buat saya sih rasanya seperti mengulang euforia masa2 berseragam putih-biru dulu yang penuh hura2 (walaupun, sungguh, dalam kamus mana pun kaya’nya saya ga pernah masuk golongan anak gaul dari dulu sampe sekarang)…

tapi ya itu tadi, seperti Woodstock, acara2 itu – segimana pun dia bikin macet dan jadi produsen sampah terbesar sehari – tetap ditunggu2 dan banyak massanya…

meureun ceuk paribasa mah “dipoyok, dilebok”😀 hehe…

yah, saya juga mengakui, acara2 tersebut di atas sangat menarik dan berpotensi meningkatkan perekonomian lokal sewaktu, (walau) belum tentu kontinyu..

eh, tapi ya, bo.. tanpa mengurangi rasa hormat dan tanpa pretensi apa pun, ini mah asli cuman penasaran aja..

sadar ga sih, bahwa tiap weekend jalanan di Bandung itu pagujudnya naudzubillah?! kaya’ benang kusut.. macet, paciweuh, matak rungsing & rujit?

taukah Anda bahwa disinyalir jumlah orang di Cekungan Bandung pada setiap akhir pekan (terutama long weekend dan liburan panjang) hampir mencapai angka 10 juta umat?? 10.000.000!!!

in case ada yang lupa,

Bandung kan udah jadi backyard-nya Jakarta nih.. pembangunan tol Cipularang itu, yang membuat Bandung-Jakarta bisa ditempuh dalam waktu rata2 2 jam saja (ini sama dengan durasi perjalanan dari Antapani ke Parongpong pake angkot, fyi..), juga menurut saya dengan sukses dan mudahnya memindahkan kemacetan dari Jakarta ke Bandung. Naturally…

lalu, masih inget si Jalan Layang kontroversial Pasupati? itu lho, jembatan yang jadi shortcut dari Pasteur ke Surapati ituuu… yang katanya dibuat sebagai solusi kemacetan kota Bandung itu lhoooo…

well, menurut saya dia sukses, lho! sukses dan oke banget sebagai solusi (memindahkan dan menambah) kemacetan di Kota Bandung😀 hehe..

well, my point is,

orang2 akan tetep dateng ke Bandung either way.. ada acara maupun ngga..

ngapain sih orang2 pada ke Bandung?

shopping dong, cyiiin!! mejeng.. ngeceng.. kan katanya  cw Bandung kece2… refreshing..

menurut saya, yang notabene bodoh dan tidak memiliki kecakapan apa2 selain Speak-o-logy ini,

tanpa “successful branding strategy” pun Bandung akan survive secara ekonomi karena orang2 akan tetap datang ke Bandung, apa pun alasannya..

dan tanpa “successful branding strategy” pun Bandung akan tetap tambah penuh sesak di lahan yang cuman segitu2nya.. densifikasi besar2an…

sepanjang setengah jam terahir saya nonton si “Taking Woodstock” itu, saya kok jadi bertanya-tanya sendiri ya..

“do we really need “Woodstock”???

apakah Bandung memang butuh “a successful branding strategy” lain untuk bikin orang dateng dan berkegiatan di sini?

kok saya rasa ngga, ya?!

yah, just a humble opinion. skeptical as it may seem.

tapi ini mah judulnya hanya memuaskan penasaran aja.

daripada disimpen sendiri, jadi jerawat, da moal anakan… hehe

demikian.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s