ketika trotoar tinggal wacana [Tuesday, September 29, 2009]

lagi nyari bahan buat nulis report di kantor, dan bos gw ngasih bahan2 bacaan yang banyak banget tentang pedestrian dan trotoar…

ternyata eh ternyata, direktorat bina tekniknya dirjen bina marganya PU pernah (ato sering?) ngeluarin standar2 tentang pembuatan trotoar, median jalan, lanskap jalan, dsb.
judulnya Tata Perencanaan Fasilitas Pejalan Kaki di Kawasan Perkotaan, dan teman2nya yang lain.

surprisingly, semua-muanya tentang standar bikin trotoar, median jalan, lanskap jalan, dsb yang bener tu ada di dalam buku panduan itu.

begini katanya:

Yang dimaksud dengan trotoar adalah jalur pejalan kaki yang terletak di daerah manfaat jalan, diberi lapis permukaan, diberi elevasi lebih tinggi dari permukaan perkerasan jalan, dan pada umumnya sejajar dengan jalur lalu lintas kendaraan. Fungsi utama trotoar adalah untuk memberikan pelayanan kepada pejalan kaki sehingga dapat meningkatkan kelancaran, keamanan, dan kenyamanan pejalan kaki tersebut. Trotoar juga berfungsi memperlancar lalu lintas jalan raya karena tidak terganggu atau terpengaruh oleh lalu lintas pejalan kaki. Ruang di bawah trotoar dapat digunakan sebagai ruang untuk menempatkan utilitas dan pelengkap jalan lainnya.

di sana juga dibilangin bahwasannya,

Fasilitas pejalan kaki harus direncanakan berdasarkan ketentuan-ketentuan sebagai
berikut :
1) Pejalan kaki harus mencapai tujuan dengan jarak sedekat mungkin, aman dari lalu lintas yang lain dan lancar.
2) Terjadinya kontinuitas fasilitas pejalan kaki, yang menghubungkan daerah yang satu dengan yang lain.
3) Apabila jalur pejalan kaki memotong arus lalu lintas yang lain harus dilakukan pengaturan lalu lintas, baik dengan lampu pengatur ataupun dengan marka penyeberangan, atau tempat penyeberangan yang tidak sebidang. Jalur pejalan kaki yang memotong jalur lalu lintas berupa penyeberangan (Zebra Cross), marka jalan dengan lampu pengatur lalu lintas (Pelican Cross), jembatan penyeberangan dan terowongan.
4) Fasilitas pejalan kaki harus dibuat pada ruas-ruas jalan di perkotaan atau pada tempat-tempat dimana volume pejalan kaki memenuhi syarat atau ketentuan-ketentuan untuk pembuatan fasilitas tersebut.
5) Jalur pejalan kaki sebaiknya ditempatkan sedemikian rupa dari jalur lalu lintas yang lainnya, sehingga keamanan pejalan kaki lebih terjamin.
6) Dilengkapi dengan rambu atau pelengkap jalan lainnya, sehingga pejalan kaki leluasa untuk berjalan, terutama bagi pejalan kaki yang tuna daksa.
7) Perencanaan jalur pejalan kaki dapat sejajar, tidak sejajar atau memotong jalur lalu lintas yang ada.
8) Jalur pejalan kaki harus dibuat sedemikian rupa sehingga apabila hujan permukaannya tidak licin, tidak terjadi genangan air serta disarankan untuk dilengkapi dengan pohon-pohon peneduh.
9) Untuk menjaga keamanan dan keleluasaan pejalan kaki, harus dipasang kerb jalan sehingga fasilitas pejalan kaki lebih tinggi dari permukan jalan.

dan sekarang gw terheran-heran…

setelah kita punya pedoman yang segitu detailnya (fyi, di buku itu jg ada gambar2 potongan dsb-nya, bo!!), dan didokumentasikan dengan segitu – relatif – baiknya…..
setelah seolah2 kita punya SOP buat bikin trotoar yang nyaman dipake…….

what makes it so hard to bring it to life?!!

jadi curigation,
jangan2 standar itu ditetapkannya cuman berdasarkan segelintir orang yang tidak representatif..??!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s