give yourself a spin

dijuduli seperti tulisan Paul Arden dalam salah satu bukunya, ini sedikit curhatan dan refleksi diri yang agak lebay, sepertinya.. :p

Saya sering berkata kepada diri saya sendiri:

“saya ingin menjadi orang yang bermanfaat”.

Mungkin, yang sering saya lupakan adalah bahwa setiap orang pasti punya manfaatnya sendiri-sendiri, dengan porsinya sendiri.

Beberapa waktu ini saya sedang berada di tengah krisis percaya diri yang mungkin belum parah, tapi menurut saya cukup mengganggu.

Entah apa pula yang memicu dia tiba-tiba muncul.

Mungkin juga faktor umur, yang masih muda, jadi masih suka mempertanyakan diri sendiri. *ah, ini pasti alasan belaka*

Ya, beberapa minggu terakhir ini saya sedang merasa butuh teman-teman sepermainan *ah, ah, ah…*

Mendadak saya kangen sekali teman2 dekat saya, yang biasanya hanya one phone call away, alias geng sampah sejati.

Tapi mengapa eh, mengapa kok akhir2 ini rasanya mereka makin sulit dikumpulkan ya??

Maka mulailah pikiran saya – yang memang sulit fokus dan sukanya jalan2 – mengumpulkan berbagai kemungkinan jawaban atas persoalan tersebut di atas:

Kenapa semakin sulit berkumpul dengan teman2 sebaya saya akhir2 ini.

However, pertanyaan itu segera menjadi pertanyaan-pertanyaan ketika saya mulai mereka-reka jawaban yang logis. Dan sesegera itu pula, pertanyaan tersebut bercabang menuju pemikiran-pemikiran lain yang makin membuat saya ngahuleng.

Skenario #1: Does everybody go on living but me?

Mendadak seolah-olah I was left alone, here, in the corner. *lebay jaya*

Sepertinya semua orang sedang asyik dengan hidupnya sendiri, dan saya tidak termasuk dalam skenario keasyikan kehidupan mereka.

Yang nikah, nikah… yang sekolah, sekolah… yang kerja, kerja… yang mengejar impiannya lewat proyek2 pun sedang asyik dengan hidupnya…

Lalu kenapa saya merasa saya tidak sedang menikmati apa pun?

Skenario #2: Everybody seems have achieved their goals. What about me?

Ok,  mari bicara soal pencapaian.

Beberapa teman-teman saya sudah menyelesaikan pendidikan masternya.

Beberapa yang lain sudah melanglang buana, bekerja dan mengejar mimpinya.

Sedangkan yang lainnya sedang berusaha mendapatkan gelar masternya.

Lha, saya lagi ngapain? Kenapa saya sepertinya tidak sedang ngapa-ngapain yah??

Saya bukan tipe orang yang menggambar hidup saya 10 tahun ke depan sampai detail, saya lebih suka sketsa konsep kasar gambaran hidup saya 10 tahun ke depan.

Tapi kenapa lama-kelamaan saya jadi merasa saya tidak punya tujuan hidup ya? *another lebayness*

Bukan, bukan tidak punya tujuan hidup.

Saya tidak tau apa yang saya mau. Dan saya takut menetapkan target. Saya takut tidak bisa memenuhi target itu.

Skenario #3: And suddenly everybody seems to be smarter than I am.

Bayangkan Anda sedang berada dalam sebuah perbincangan santai di kedai kopi bersama beberapa teman. Lalu pembicaraan ringan yang tadinya hanya berkisar soal how’s life, what’s news, dan obrolan ngga penting lainnya, tiba-tiba berubah menjadi bahasan mengenai “Urban Green System”, lengkap dengan segala hipotesis dan opini mereka tentang topik tersebut di atas.

And I suddenly lost in translation.

Betapa pun saya mencoba mengimbangi obrolan mereka, saya tetap merasa kalah langkah karena itu adalah topik yang tidak saya kuasai.

Haruskah saya sekolah lagi untuk kembali get along sama mereka?

Skenario #4: I, then, merely a pathetic mediocre.

Pernyataan itu adalah hipotesis saya, yang notabene sedang merasa krisis percaya diri.

Desain saya biasa aja, saya ga bisa sketsa, saya “cuman” lulusan sarjana yang lebih sering menghabiskan waktu kuliahnya di luar kelas dan titip absen, saya kerja di kantor yang biasa aja – masih di Bandung-Bandung aja pula, dan saya belum punya pencapaian apa-apa.

Saya terlalu banyak mengeluh dan beralasan.

So tell me, how in the world could I be useful?

*drama queen mode: ON*

Percaya atau tidak, itu ada di kepala saya beberapa minggu ini.

Saya tau, tidak semua orang menganggap ini penting.

Itu sebabnya saya jadi seperti “diingatkan kembali”, tidak semua yang saya anggap penting akan dianggap penting juga oleh orang lain.

Dan seharusnya, seperti yang sudah-sudah, saya mampu bersikap acuh dan cuek terhadap perbedaan tersebut.

Lakum diinukum waliyadiin.

Lalu apa hubungannya dengan jadi orang yang berguna?

Sebagian dari kita mungkin berusaha untuk selalu terlihat sempurna, atau berusaha untuk selalu push beyond the limit karena melihat preseden yang baik.

Dalam hal ini, asumsikan saja saya punya segudang teman-teman yang telah menjadi preseden baik bagi saya.

Dan secara tidak sadar, saya mulai menggunakan standar mereka untuk diri saya – yang pastinya belum tentu sesuai, seperti:

Saya harus sekolah lagi kalo mau bikin sesuatu yang hebat. *padahal itu semua kan cuma ada di kepala saya aja, saya tinggal mewujudkannya*

Saya harus punya bakat yang diasah terus-terusan dari kecil kalo mau jadi arsitek hebat.*hey, bahkan arsitek hebat pun pernah bodoh, bukan?*

Tapi apakah dengan begitu saya pasti jadi berguna untuk orang lain?

Obrolan nyata dengan seorang teman dan obrolan maya dengan seorang teman lainnya malam ini membawa saya pada kesimpulan (yang sebenernya saya juga udah tau dari kemaren-kemaren, cuma mungkin kelupaan aja):

Saya hanya bisa berguna bagi diri saya dan orang lain ketika saya menghargai diri saya dengan baik.

Saya hanya bisa berguna bagi diri saya dan orang lain ketika saya menjadi diri saya sendiri.

Saya mungkin tidak punya ilmu sebanyak teman-teman saya, jadi ya segitulah nilai guna saya.

Saya mungkin tidak bisa mengasosiasikan benda dengan namanya, wajah dengan namanya, atau arsitek dengan karyanya, tapi ya seberharga itulah saya.

Saya mungkin tidak tahu apa yang saya mau.

Tapi saya tidak mau menghabiskan seumur hidup saya untuk mencari tahu.

So, let’s start living (again), shall we?

*dan saya baru sadar, saya ngomongnya ngelantur bener yak?!*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s